Plus Minus Penggunaan BBM Beretanol: Antara Ramah Lingkungan dan Ancaman bagi Mesin Kendaraan
Plus Minus Penggunaan BBM Beretanol: Antara Ramah Lingkungan dan Ancaman bagi Mesin Kendaraan
Isu seputar bahan bakar minyak (BBM) beretanol kembali mencuat ke permukaan setelah sejumlah SPBU swasta dikabarkan menolak pasokan BBM dari Pertamina. Penolakan ini bukan tanpa alasan—kandungan etanol dalam BBM impor yang disediakan Pertamina menjadi pemicu utama keengganan mereka. Namun, di balik kontroversi tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah BBM beretanol benar-benar berbahaya bagi kendaraan, atau justru membawa manfaat signifikan bagi lingkungan?
SPBU Swasta Mundur karena Etanol
Menurut Achmad Muchtasyar, Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, dua jaringan SPBU swasta ternama—Vivo dan BP-AKR—memutuskan untuk tidak melanjutkan pembelian base fuel (bahan dasar BBM) dari Pertamina. Alasannya? Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kandungan etanol sekitar 3,5 persen dalam bahan bakar tersebut.
“Temuan etanol sebesar 3,5% pada base fuel impor inilah yang membuat Vivo dan BP-AKR memilih mundur dari kesepakatan pembelian,” ungkap Achmad dalam keterangan resminya.
Keputusan ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat etanol sebenarnya telah lama digunakan sebagai aditif dalam BBM di berbagai negara sebagai upaya mengurangi emisi gas buang dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Etanol dalam BBM: Masih Aman Secara Teknis?
Di tengah kekhawatiran tersebut, Muhamad Fuad, seorang peneliti independen di bidang pelumas dan bahan bakar, menegaskan bahwa kandungan etanol sebesar 3,5% dalam BBM secara teknis masih berada dalam batas aman.
“Secara teknis, campuran etanol hingga 10% masih bisa digunakan oleh kendaraan bermotor modern, termasuk motor-motor keluaran terbaru,” jelas Fuad saat dihubungi Kilat melalui sambungan telepon.
Pernyataan ini diperkuat oleh dokumen resmi dari produsen otomotif ternama. Dalam Buku Pedoman Pemilik Honda Vario 160, pada halaman 143 secara eksplisit disebutkan bahwa bahan bakar yang mengandung alkohol (termasuk etanol) dapat digunakan, asalkan kadar etanolnya tidak melebihi 10%.
Tantangan Iklim Tropis: Etanol dan Kelembapan Udara
Namun, Fuad juga mengingatkan bahwa kondisi geografis dan iklim Indonesia—yang cenderung lembap—menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan. Etanol memiliki sifat higroskopis, artinya mudah menyerap uap air dari udara sekitar.
“Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, risiko kontaminasi air dalam tangki BBM jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Ketika pengendara membuka tutup tangki untuk mengisi bensin, uap air dari udara bisa masuk dan bercampur dengan BBM beretanol. Karena air memiliki massa jenis lebih tinggi daripada bensin, cairan tersebut akan mengendap di dasar tangki.
“Air yang mengendap ini bisa memicu korosi pada bagian dalam tangki bahan bakar. Lebih parah lagi, jika ikut terbawa ke ruang bakar mesin, air dapat mengganggu proses pembakaran dan bahkan menyebabkan kerusakan pada komponen mesin,” terang Fuad.
Sisi Positif: BBM Beretanol Lebih Ramah Lingkungan
Meski memiliki potensi risiko, BBM beretanol juga menawarkan sejumlah keuntungan signifikan—terutama dari sisi lingkungan. Salah satu manfaat utamanya adalah peningkatan efisiensi pembakaran di dalam ruang mesin.
“Etanol memiliki angka oktan yang tinggi, sehingga membantu proses pembakaran menjadi lebih homogen dan sempurna,” jelas Fuad.
Pembakaran yang lebih sempurna berarti lebih sedikit sisa bahan bakar yang tidak terbakar sempurna, termasuk emisi karbon dioksida (CO₂). Dengan demikian, penggunaan BBM beretanol berpotensi menurunkan jejak karbon kendaraan bermotor.
“Ini adalah salah satu alasan mengapa banyak negara mendorong penggunaan bioetanol sebagai bagian dari strategi transisi energi bersih,” tambahnya.
Selain itu, etanol merupakan bahan bakar terbarukan yang umumnya diproduksi dari tanaman seperti tebu, jagung, atau singkong. Di Indonesia, program B30 (biodiesel 30%) telah berjalan, dan pengembangan bioetanol dari sumber lokal seperti tebu atau sagu juga sedang digalakkan sebagai bagian dari upaya ketahanan energi nasional.
Antara Kebijakan, Teknologi, dan Edukasi Konsumen
Kasus penolakan SPBU swasta terhadap BBM beretanol menunjukkan bahwa penerapan kebijakan energi alternatif tidak bisa hanya mengandalkan aspek teknis semata. Faktor kepercayaan publik, kesiapan infrastruktur, dan edukasi kepada konsumen juga menjadi kunci keberhasilan.
Update Terbaru
Bacaan Doa Hari Asyura 10 Muharram untuk Memohon Ampunan dan Keselamatan dari Allah SWT
Kamis / 25-06-2026, 19:04 WIB
Selain Koi, 6 Ikan Ini Dipercaya Membawa Keberuntungan Menurut Feng Shui
Kamis / 25-06-2026, 19:00 WIB
Pemerintah Mulai Pendataan Pegawai Hotel Sultan untuk Pemetaan Pemberdayaan
Kamis / 25-06-2026, 19:00 WIB
Download Nonton Film Tanah Runtuh (2026) di Bioskop Bukan LK21: Angkat Perjuangan Keluarga di Tengah Konflik Poso
Kamis / 25-06-2026, 19:00 WIB
Perjalanan Asmara Rizky Irmansyah dari Afnan Feby hingga Chika Yenalovy
Kamis / 25-06-2026, 18:59 WIB
Cara Dapat Diskon 30% untuk Dua Moda Transportasi Umum Sepanjang 2026
Kamis / 25-06-2026, 18:56 WIB
5 Sistem Informasi untuk Tingkatkan Produktivitas di 2026
Kamis / 25-06-2026, 18:56 WIB
Link Anak vs Ibu Handuk Putih Viral di TikTok Bikin Penasaran, Ini Fakta di Balik Video yang Beredar
Kamis / 25-06-2026, 18:49 WIB
Harga Asli Pertamax Dibuka ke Publik, DPR: Harusnya Rp 19.000-Rp 20.000!
Kamis / 25-06-2026, 18:49 WIB
Profil Ginka Febriyanti Ginting yang Masuk Jajaran Komisaris Pertamina Retail: Umur, Agama, IG dan Riwayat Organisasinya
Kamis / 25-06-2026, 18:45 WIB
Kantongi Pendanaan US$11,3 Juta, Floq Perluas Bisnis ke Stablecoin hingga Tokenisasi
Kamis / 25-06-2026, 18:45 WIB
DPR Apresiasi Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Jaga Daya Beli Masyarakat
Kamis / 25-06-2026, 18:45 WIB
Brantas Abipraya Kebut PSN Bendungan Bulango Ulu, Progres Tembus 94,99%
Kamis / 25-06-2026, 18:45 WIB






