CEO Ford, Jim Farley, menginginkan agar para pesaingnya yang mengimpor hampir setengah dari kendaraan yang mereka jual di Amerika Serikat mendapat hukuman.

Pernyataan ini muncul di tengah ketidakpastian pembaruan Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA). Pemerintahan Trump memutuskan untuk tidak memperbarui perjanjian tersebut dalam bentuknya saat ini.

>>> Penjualan CT5 Sedan Lampaui Sebagian Besar Crossover Cadillac

Dalam wawancara dengan CNBC, Farley mengatakan bahwa kesepakatan baru harus memudahkan persaingan dengan produsen AS yang mengimpor dari Jepang, Korea Selatan, dan negara lain.

Ford mengklaim bahwa 83% kendaraan yang dijual di AS dibuat di dalam negeri. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan banyak pesaing yang sangat bergantung pada impor.

Menurut data, General Motors mengimpor 1,17 juta kendaraan tahun lalu, atau 41% dari penjualan domestik mereka.

Model-model seperti Chevrolet Trax dan Equinox, serta sebagian besar lini Buick, berasal dari luar negeri.

Toyota, meskipun memiliki sejumlah pabrik di AS, mengimpor lebih dari 1,19 juta kendaraan pada 2025. Akibatnya, 47% kendaraan yang dijual di AS merupakan impor.

>>> CT5 Sedan Cadillac Kalahkan Penjualan Sebagian Crossover di Q2 2026

Ford mengklaim merakit lebih dari enam kendaraan di AS untuk setiap satu kendaraan yang diimpor, memimpin industri.

Perusahaan juga memproduksi lebih dari 2 juta kendaraan di AS tahun lalu.

Farley menilai Ford harus diberi penghargaan karena memproduksi di AS, atau pesaing harus dikenakan sanksi karena mengandalkan impor.

Ia percaya hal ini akan 'menyetarakan lapangan bermain'.

>>> Toyota Hentikan Produksi GR Supra, Penjualan Justru Melonjak 72%

Namun, membangun pabrik di AS biasanya membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan di negara berupah rendah seperti Meksiko. Belum jelas apakah usulan Farley akan terwujud.