Justin Kluivert, putra legenda sepak bola Patrick Kluivert, menjadi korban serangan rasisme di media sosial setelah Timnas Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026.

Insiden itu terjadi usai Justin gagal mengeksekusi penalti saat Belanda kalah 2-3 dari Maroko pada babak 32 besar di Monterrey.

>>> Jeremy Doku Kembali, Belgia Full Team Hadapi Senegal di 32 Besar Piala Dunia 2026

Selain Justin, dua pemain lain, Quinten Timber dan Crysencio Summerville, juga mendapat ujaran diskriminatif di platform digital.

KNVB Siap Tempuh Jalur Hukum

Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) merespons tegas dengan melaporkan kasus ini ke lembaga penanganan diskriminasi daring, 'Meld Online Discriminatie'.

"Kami menganggap hal ini sangat mengerikan, dan kami akan mengajukan kasus ini ke lembaga tersebut," tulis pernyataan resmi KNVB.

>>> Thomas Tuchel Waspadai Perlawanan RD Kongo di Tengah Krisis Lini Belakang

Lembaga itu akan menilai apakah komentar-komentar tersebut memenuhi unsur tindak pidana, yang bisa berujung pada penyelidikan kriminal oleh Layanan Penuntutan Publik.

KNVB menegaskan identitas pelaku akan ditelusuri serius sebagai komitmen memberantas rasisme di ruang digital.

Belajar dari Kasus Timnas Inggris

Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa yang menimpa pemain Timnas Inggris usai final Euro 2020, di mana Marcus Rashford, Bukayo Saka, dan Jadon Sancho menjadi sasaran rasial setelah gagal penalti.

>>> Jadwal Siaran Langsung Amerika Serikat vs Bosnia di Piala Dunia 2026

Saat itu, aparat keamanan Inggris bergerak cepat dan menjatuhkan hukuman penjara kepada dua pelaku ujaran kebencian.