Tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin meningkat di tengah perhelatan Piala Dunia 2026.

Sebanyak 50 anggota Parlemen Uni Eropa mendesak investigasi terkait dugaan pelanggaran prinsip netralitas politik setelah pemberian penghargaan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

>>> Haaland Pahlawan, Norwegia ke 16 Besar Piala Dunia 2026

Desakan itu tertuang dalam surat resmi yang mendukung laporan organisasi hak asasi manusia FairSquare.

Para anggota parlemen meminta Komite Etik FIFA menyelidiki keputusan Infantino menciptakan dan memberikan FIFA Peace Award kepada Trump pada Desember 2025 di Washington.

Mereka menilai langkah tersebut berpotensi melanggar statuta FIFA yang mewajibkan netralitas dalam urusan politik dan agama.

Anggota parlemen Irlandia, Barry Andrews, mengatakan bahwa Piala Dunia seharusnya menyatukan dunia.

"Ketika Presiden FIFA mendukung satu pemimpin, itu merusak kredibilitas organisasi dan turnamen," ujarnya dikutip dari BBC.

Penghargaan tersebut diberikan dalam acara undian Piala Dunia 2026 di Washington.

>>> Tears on a Withered Flower Chapter 109: Jadwal Rilis, Spoiler, dan Cara Baca

Saat itu, Infantino menyebut Trump layak menerima penghargaan atas perannya dalam upaya perdamaian global dan mengumumkan bahwa penghargaan itu akan diberikan setiap tahun.

Namun, FairSquare menilai pembentukan penghargaan tersebut tidak melalui persetujuan Dewan FIFA.

Hal ini memicu pertanyaan terkait transparansi dan tata kelola dalam pengambilan keputusan di tubuh organisasi.

Dalam suratnya, para anggota parlemen menegaskan bahwa kasus ini menjadi ujian penting bagi FIFA.

Mereka meminta FIFA menunjukkan komitmen terhadap transparansi, akuntabilitas, dan netralitas politik.

>>> Jurgen Klopp Buka Suara soal Rumor Jadi Pelatih Timnas Jerman

"Dengan sorotan dunia saat ini, FIFA harus menangani laporan ini secara serius. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan integritasnya," demikian isi pernyataan tersebut.