Salah satu kekuatan terbesar We Are Aliens adalah cara berceritanya yang unik. Alih-alih mengikuti satu karakter, film ini menceritakan kisah yang sama dari dua perspektif berbeda.

Bagian pertama mengikuti Tsubasa, sementara bagian kedua diceritakan melalui sudut pandang Gyōtarō. Pendekatan perspektif ganda ini membantu penonton memahami kedua karakter dan emosi di balik pilihan mereka.

in1

Sutradara Kōhei Kadowaki juga membuat keputusan kreatif berani dengan mengungkapkan judul film hanya di pertengahan cerita.

Alih-alih sekadar kejutan, momen tersebut memberikan makna baru pada semua yang terjadi sebelumnya.

Simbol-simbol yang berulang, termasuk kaset game yang mewakili persahabatan kedua anak laki-laki dan pantulan diri yang terdistorsi, menambah kedalaman emosional pada film.

>>> 10 Anime Paling Dinanti Juli 2026: Sekuel dan Seri Baru Wajib Tonton

Alih-alih memberikan jawaban mudah, film ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pikiran. Seberapa mudah kita menilai orang lain berdasarkan apa yang kita dengar?

Bisakah satu keputusan ceroboh mengubah hidup seseorang selamanya?

Melalui kisah emosional tentang persahabatan, perundungan, rasa bersalah, dan pendewasaan, film ini menghadirkan pengalaman coming-of-age yang kuat dan membekas di benak penonton.

Perjalanan dari Crowdfunding ke Cannes

We Are Aliens berawal sebagai proyek akar rumput yang didukung oleh para penggemar.

Tim produksi meluncurkan kampanye crowdfunding di platform Motion Gallery untuk meningkatkan kualitas film dan memperluas perilisan.

Kampanye tersebut melampaui target awal ¥8 juta, berhasil mengumpulkan lebih dari ¥9,6 juta, menunjukkan dukungan kuat dari penonton bahkan sebelum film selesai diproduksi.

Berkat dukungan luar biasa itu, We Are Aliens segera mencapai beberapa festival film terbesar dunia.

Film ini tayang perdana di bagian Directors' Fortnight di Festival Film Cannes sebelum berkompetisi di Festival Film Animasi Internasional Annecy, salah satu acara animasi paling bergengsi di dunia.