ChatGPT, aplikasi kecerdasan buatan besutan OpenAI, mencatatkan rekor baru dengan menembus 1 miliar pengguna aktif bulanan (MAU) pada Mei 2026.

Pencapaian ini diraih dalam waktu sekitar 3,5 tahun sejak peluncuran November 2022, berdasarkan data firma riset Sensor Tower.

>>> Jennifer Coppen dan Justin Hubner Resmi Menikah di Bali

Rekor tersebut menjadikan ChatGPT sebagai aplikasi dengan pertumbuhan tercepat, melampaui Google Maps yang membutuhkan lima tahun untuk mencapai angka serupa.

Uniknya, lonjakan pengguna ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya sentimen negatif terhadap AI di masyarakat.

Di Amerika Serikat, sejumlah lulusan universitas secara terbuka menolak penyebutan AI dalam pidato kelulusan karena khawatir akan hilangnya lapangan kerja.

Tokoh dan organisasi dunia, termasuk Paus Leo dan perusahaan AI Anthropic, juga menyuarakan peringatan tentang risiko pengembangan AI tanpa kendali yang jelas.

Meskipun demikian, data menunjukkan adopsi AI justru meningkat. Aplikasi kompetitor seperti Claude milik Anthropic dan Meta AI juga menikmati pertumbuhan signifikan.

Sensor Tower mencatat pertumbuhan year-on-year Claude sebesar 640%, sementara Meta AI melesat 973%.

Analis senior Sensor Tower Abe Yousef mengatakan sentimen publik memang memengaruhi pilihan pengguna.

>>> Zoom Luncurkan AI Productivity Suite untuk Automasi Dokumen Kerja

Contohnya, saat OpenAI mengumumkan kerja sama dengan Departemen Pertahanan AS pada akhir Februari 2026, penghapusan aplikasi ChatGPT melonjak 295% dalam sehari.

Sebaliknya, Claude mendapat simpati publik karena menolak terlibat dalam operasi militer Pentagon, sehingga sempat merajai peringkat App Store.

Efisiensi Jadi Alasan Utama

Para ahli menilai tren adopsi AI global tidak akan mudah dihentikan oleh sentimen negatif.

Direktur pelaksana Boston Consulting Group Hanno Stegmann menyebut ketidakpastian adalah respons rasional terhadap transisi teknologi masif.

Namun, efisiensi yang ditawarkan menjadi alasan utama pengguna tetap setia.

Survei BCG terhadap 12.000 pekerja menunjukkan 74% di antaranya rutin menggunakan AI, dan lebih dari 40% mengaku menghemat waktu setara satu hari kerja penuh setiap minggu.

Lonjakan adopsi AI didorong oleh pesatnya perkembangan Large Language Models yang mampu menangani tugas kompleks, dari penulisan kreatif hingga analisis data.

>>> Rekomendasi Film Baru Akhir Pekan: Backrooms hingga Disclosure Day

Namun, kecepatan inovasi ini memicu dilema: di satu sisi, AI diprediksi mendorong nilai pasar global hingga lebih dari $4,8 triliun pada 2033; di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang privasi data, disinformasi, dan ancaman keamanan global jika AI dibiarkan tanpa batasan.