Bank Dunia (World Bank) menyoroti kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia yang dinilai masih salah sasaran.

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia mengungkapkan bahwa kelompok 20% rumah tangga terkaya menerima lebih dari separuh manfaat subsidi BBM.

>>> Australia Kalahkan Indonesia di Semifinal ASEAN U19 Championship 2026

Ketimpangan ini terjadi karena tingginya kepemilikan kendaraan dan konsumsi bahan bakar di kalangan masyarakat kelas atas.

Bank Dunia mencatat pengeluaran untuk subsidi energi di Indonesia mencapai 1,6% dari produk domestik bruto (PDB).

"Sistem saat ini menyerap sumber daya fiskal yang terbatas, namun hanya memberikan dukungan yang terbatas bagi kelompok miskin dan rentan," tulis Bank Dunia dalam laporannya, dikutip Kamis (11/6/2026).

Rekomendasi Reformasi Subsidi

Untuk mengatasi masalah struktural ini, Bank Dunia merekomendasikan pemerintah melakukan penyesuaian harga secara bertahap guna mempersempit jarak antara harga subsidi dan harga pasar.

Simulasi Bank Dunia menunjukkan bahwa pencabutan subsidi secara bertahap selama dua tahun dapat menghasilkan penghematan fiskal sebesar 1,3% dari PDB.

>>> Kartu Merah Cesar Montes Untungkan Timnas Korea Selatan di Piala Dunia

Ruang fiskal diproyeksikan akan melebar hingga 2,1% dari PDB setelah harga disesuaikan secara penuh.

Namun, Bank Dunia mengakui adanya dampak negatif dari kebijakan ini.

Pencabutan subsidi berisiko menurunkan kesejahteraan seluruh kelompok pendapatan sebesar 1,7% hingga 2,4% dari pendapatan yang dapat dibelanjakan, serta berpotensi memicu kenaikan kemiskinan sekitar 0,5 poin persentase.

Meski demikian, dampak tersebut dapat dikendalikan melalui penyaluran bantuan langsung tunai berjangka waktu yang ditargetkan untuk 40% rumah tangga termiskin.

Skema kompensasi terarah ini bahkan diperkirakan mampu menekan angka kemiskinan sebesar 0,3 poin persentase.

>>> Real Madrid Resmi Kontrak Jose Mourinho Tiga Musim

Biaya fiskal untuk program perlindungan ini relatif kecil, di mana alokasi transfer tunai selama satu bulan hanya menyerap sekitar 10% dari total penghematan subsidi BBM.