Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, langkah tersebut juga diarahkan untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran pemerintah, yakni 2,5 persen dengan toleransi kurang lebih 1 persen.

Bank sentral juga menilai diperlukan langkah lanjutan guna memperkuat daya tarik aset domestik, termasuk melalui peningkatan imbal hasil dan berbagai insentif yang dapat mendorong masuknya aliran modal asing.

Rupiah Menguat Saat Pembukaan Perdagangan

Pada awal perdagangan Rabu pagi, rupiah dibuka di level Rp17.894 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 106 poin atau 0,59 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Penguatan rupiah saat pembukaan berlangsung sejalan dengan kenaikan yen Jepang sebesar 0,01 persen, won Korea Selatan 0,11 persen, serta dolar Hong Kong yang bergerak stabil.

Sementara itu, yuan China turun 0,06 persen. Dolar Singapura melemah 0,07 persen, baht Thailand terkoreksi 0,46 persen, dan dolar Taiwan turun 0,11 persen.

Dengan kombinasi faktor global dan kebijakan moneter domestik, pergerakan rupiah sepanjang hari diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen pasar terhadap arah suku bunga AS serta perkembangan geopolitik internasional.