Aarhus GF terakhir kali memenangi divisi utama Liga Denmark pada 1986 dan Piala Denmark pada 1996.

Klub ini sempat mengalami degradasi tiga kali, yakni pada 2006, 2010, dan 2014, sebelum bangkit di bawah manajemen baru.

Pelatih sebelumnya, David Nielsen, yang menangani tim sejak 2017, pernah mengibaratkan perjuangan klub seperti legenda pedang dalam batu.

"Semua orang ingin mencabut pedang itu, tetapi hanya satu orang yang akan berhasil," ujar Nielsen.

>>> Aritz Elustondo Resmi Tinggalkan Real Sociedad Setelah Pengabdian Panjang

Kunci Sukses: Kerja Sama Tim

Di sektor pemain, Gift Links tampil impresif sebagai bek sayap kiri dengan 37 penampilan, lima gol, dan tujuh assist di semua kompetisi.

Pemain berusia 27 tahun itu masuk nominasi Pemain Terbaik Superliga Denmark musim ini.

Ketua Klub Penggemar Aarhus GF, Jakob Emil Beikes, mengungkapkan bahwa para pendukung awalnya tidak menyangka tim bisa bertahan di puncak.

"Kami berpikir, 'baiklah, kami mungkin akan berada di puncak untuk waktu yang singkat,' tetapi kemudian kami tetap di sana dan terus di sana," ujarnya.

Beikes menambahkan bahwa penantian panjang ini terasa sangat emosional. "Kami tidak memiliki pemain terbaik di liga, tetapi kami memiliki tim terbaik," katanya.

Jakob Poulsen, yang merupakan manajer ke-22 klub sejak 1986, akhirnya menjadi sosok yang mewujudkan impian tersebut melalui pendekatan taktik penguasaan bola yang lebih tenang dan perubahan formasi menjadi 3-4-3.

"Sulit untuk memahami betapa liarnya akhirnya terjadi," ujar Poulsen.

Seorang pemegang tiket terusan klub, Jakob Emil Beikes, yang juga Ketua Klub Penggemar Aarhus GF, mengungkapkan bahwa para pendukung pada awalnya tidak menyangka tim kesayangan mereka dapat bertahan lama di puncak klasemen.