Prabowo Soroti Dampak Dolar AS, Pelemahan Rupiah Tetap Bisa Tekan Ekonomi Desa

Pernyataan Presiden Prabowo soal masyarakat desa yang dinilai tidak terdampak langsung oleh penguatan Dolar AS memicu perdebatan mengenai kondisi ekonomi pedesaan di tengah pelemahan Rupiah.

Di tengah kurs Rupiah yang sempat bergerak mendekati Rp17.600 per dolar AS, kekhawatiran muncul karena dampaknya dinilai dapat menjalar hingga ke sektor-sektor dasar di desa.

Walau transaksi harian warga desa menggunakan Rupiah, tekanan kurs tetap berpengaruh melalui rantai distribusi barang, bahan baku impor, hingga biaya energi.

>>> Profil Biodata Kim Young-gil Suami Aktris Senior Korea Selatan Kim Young-ok Meninggal Dunia: Umur, Agama dan IG

Harga Kebutuhan Pertanian Ikut Naik

Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan ketika nilai tukar Rupiah melemah.

Sejumlah bahan baku pupuk, pestisida, hingga obat pertanian masih bergantung pada impor. Saat dolar menguat, harga jual produk tersebut ikut terdorong naik di tingkat petani.

Kondisi serupa juga dialami peternak ayam maupun sapi. Industri pakan ternak nasional masih menggunakan bahan baku impor dalam jumlah besar sehingga biaya produksi meningkat ketika kurs Rupiah tertekan.

Kenaikan biaya pakan membuat margin keuntungan peternak menyusut, sementara harga telur dan daging cenderung ikut naik di pasaran.

Daya Beli Warga Desa Terancam

Pelemahan Rupiah juga berdampak terhadap harga kebutuhan pokok yang banyak dipengaruhi pasar global.

Komoditas seperti gula, minyak goreng, dan tepung terigu dapat mengalami kenaikan harga akibat biaya impor yang membengkak.

Jika kondisi berlangsung lama, daya beli masyarakat desa berpotensi menurun karena pengeluaran rumah tangga ikut meningkat.

Biaya Distribusi dan Energi Membengkak