Ada dua waktu di mana taubat tidak lagi diterima. Pertama, ketika nyawa telah sampai di kerongkongan. Dalam Surah An-Nisa ayat 18 dijelaskan bahwa taubat yang dilakukan saat sakaratul maut tidak akan diterima.

Penjelasan ulama tafsir menyebutkan bahwa taubat masih diterima selama seseorang belum benar-benar berada di ambang kematian. Kesadaran yang datang sebelum itu masih membuka peluang ampunan.

Kedua, saat datangnya hari kiamat. Dalam Surah Al-An’am ayat 158 dijelaskan bahwa iman dan taubat yang muncul setelah tanda-tanda besar kiamat tidak lagi memberi manfaat.

Kondisi ini diibaratkan seperti peristiwa Fir’aun yang baru mengakui kebenaran saat tenggelam, namun pengakuan itu tidak lagi diterima.

Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya segera melakukan introspeksi diri. Memperbanyak istigfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meninggalkan perbuatan maksiat menjadi langkah penting menuju taubat yang sejati.

Rasulullah SAW sendiri mencontohkan dengan memperbanyak taubat setiap hari, sebagaimana sabdanya, “Aku bertaubat kepada Allah dalam sehari seratus kali.” (HR Muslim).

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ...

>>> Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 6 – 10 Mei 2026

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ...

Jamaah yang dimuliakan Allah, kembali khatib mengingatkan pentingnya menjaga ketakwaan dalam setiap aspek kehidupan. Ketakwaan bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam kesiapan menghadapi kehidupan setelah kematian.

Allah SWT memerintahkan agar setiap manusia memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok, yakni kehidupan akhirat.

Momentum Jumat ini hendaknya menjadi titik awal untuk memperbaiki diri. Tidak menunda taubat, tidak menunggu waktu yang tidak pasti, dan tidak menyepelekan dosa sekecil apa pun.

Semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk kembali kepada-Nya dengan taubat yang tulus sebelum datangnya waktu yang tidak lagi memberi peluang.