Taubat menjadi pintu keselamatan yang harus segera ditempuh setiap Muslim sebelum datangnya waktu yang tidak lagi memberi kesempatan. Dalam ajaran Islam, ada dua momen ketika pintu ampunan tertutup, yakni saat ajal menjemput dan ketika tanda besar kiamat telah tiba.

Peringatan ini menjadi relevan disampaikan menjelang pelaksanaan Salat Jumat pada 1 Mei 2026, di mana umat Islam berkumpul dalam hari yang dimuliakan sebagai Sayyidul Ayyam atau penghulu segala hari.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِك...

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT, khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Ketakwaan menjadi kunci terbukanya jalan keluar dari berbagai persoalan hidup serta datangnya rezeki dari arah yang tidak disangka.

Allah menegaskan dalam Surah At-Talaq ayat 2–3 bahwa siapa yang bertakwa akan diberikan solusi dan kecukupan oleh-Nya.

Manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Setiap hari, baik disadari maupun tidak, dosa bisa saja dilakukan melalui ucapan maupun perbuatan. Namun demikian, Islam menegaskan bahwa pintu taubat selalu terbuka selama belum terlambat.

Rasulullah SAW bersabda, “Semua bani Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik yang bersalah adalah mereka yang segera bertaubat.” (HR Ibnu Majah).

Keyakinan bahwa Allah Maha Pengampun harus mendorong setiap hamba untuk kembali kepada-Nya. Bahkan dosa sebesar apa pun dapat diampuni selama disertai taubat yang sungguh-sungguh.

Dalam hadis lain disebutkan, “Jika kesalahan kalian mencapai langit, lalu kalian bertaubat, niscaya Allah menerima taubat tersebut.” (HR Ibnu Majah).

Meski demikian, kemurahan Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda taubat. Menunggu usia tua bukanlah jaminan, karena kematian dapat datang kapan saja tanpa melihat usia.