Selain itu, analisis menunjukkan bahwa sferul individu mengandung materi dengan tanda isotop yang bervariasi, mengindikasikan bahwa asteroid induknya terdiri dari campuran materi antariksa primitif sebelum debunya mencapai Bumi.

Para peneliti mensimulasikan jalur debu melalui atmosfer dan menemukan bahwa partikel tersebut menghantam Bumi dengan kecepatan antara 8,7 hingga 10,5 mil per detik.

Kecepatan ini sesuai dengan orbit yang berasal dari asteroid dekat Bumi yang bergerak pada jalur tidak beraturan.

>>> Rumah Makin Personal: Solusi Interior Custom Dukung Gaya Hidup Penghuni

Sumber Alami dari Asteroid Tak Dikenal

Profil kimia yang unik ini mengindikasikan bahwa debu tersebut berasal dari asteroid karbonaseus yang belum ditemukan.

Meskipun objek ini memiliki ciri khas yang sama dengan chondrite tipe CY yang langka, komposisinya membedakannya sebagai jenis batuan antariksa yang belum terklasifikasi.

Tidak seperti asteroid yang lebih padat yang menghasilkan meteorit yang dapat dikumpulkan, tidak ada fragmen besar dari benda induk ini yang pernah selamat dari panas masuk atmosfer untuk mencapai permukaan Bumi secara utuh.

Para peneliti memperkirakan bahwa aliran debu halus ini telah menghujani planet ini secara stabil selama lebih dari satu juta tahun.

Temuan ini menantang asumsi mendasar dalam ilmu keplanetan dengan membuktikan bahwa koleksi meteorit standar hanya menangkap sebagian kecil dari keragaman asteroid yang sebenarnya.

Meskipun banyak keluarga asteroid kemungkinan menghasilkan awan debu mikro yang tahan lama, bongkahan yang lebih besar pecah tinggi di atmosfer atas.

>>> Temukan 5 Toko Sepeda Online Terbaik dengan Koleksi Lengkap

Akibatnya, butiran debu mikroskopis ini tetap menjadi satu-satunya tautan fisik kita ke populasi asteroid yang melayang di Tata Surya.