Investor Bersiap Raup Untung Besar saat Ekonomi AS Ambruk
Sebuah indikator baru kembali menyala di papan kendali ekonomi Amerika Serikat: short seller memasang taruhan melawan pasar saham domestik dalam jumlah yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya.
Analisis terbaru dari firma S3 Partners menemukan bahwa short interest di S&P 500 kini menjadi yang tertinggi sejak perusahaan itu mulai mengumpulkan data pada 2010, seperti dilaporkan Business Insider.
>>> Cara Ambil Bansos dan Subsidi Lewat Koperasi Desa Merah Putih Mulai September 2026
Secara total, S3 menemukan bahwa sekitar 3,7 persen dari free float S&P — nilai total saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik — kini terikat dalam short interest.
Angka itu hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagai perbandingan, sekitar 3,8 persen S&P dilindungi nilainya sesaat sebelum krisis keuangan 2008.
Hal ini menambah semakin banyak titik data yang mengindikasikan bahwa ekonomi AS akan menghadapi guncangan besar.
Secara sederhana, ini adalah indikasi jelas bahwa investor institusional berusaha mengantisipasi gelembung keuangan AI, yang menyumbang sekitar 60 persen pertumbuhan indeks sejak April.
Fakta bahwa semakin banyak investor tidak hanya keluar dari posisi, tetapi secara aktif bertaruh melawan pasar saham AS, menjadi pertanda besar.
Selama bertahun-tahun, sejumlah ekonom dan analis keuangan berani menunjukkan bahwa jumlah uang yang dihabiskan untuk AI terus meningkat sebagai bukti bahwa gelembung AI tidak berkelanjutan.
>>> Panduan Efektif Menutup Rekening ATM dan M-Banking Secara Permanen di 2026
Masalahnya, investor tidak masalah dengan biaya yang meningkat jika ada pendapatan yang cukup untuk membenarkan pengeluaran tersebut.
Namun untuk pengembangan AI, biaya telah melampaui 1,6 triliun dolar AS pada 2026.
Baik melihat pusat data, pendapatan iklan digital, atau biaya inferensi, pertumbuhan pendapatan yang dibutuhkan tidak ada. Perusahaan teknologi terkemuka justru memainkan permainan 'menendang kaleng' yang semakin mahal.
Situasi inilah yang membuat investor — dan banyak orang biasa — khawatir tentang gelembung keuangan AI.
Contoh sempurna terlihat pada Alphabet, perusahaan induk Google, yang melaporkan kuartal kedua arus kas bebas negatif minggu ini.
>>> Fakta Paling Menohok dari Laporan Laba Kuartal Kedua Tesla
Perusahaan juga menaikkan ekspektasi belanja modal sebesar 5 hingga 25 miliar dolar AS, menurut CNBC, membuat investor lari terbirit-birit karena revolusi AI yang dijanjikan masih jauh dari kenyataan.
Update Terbaru
Chrome ARM64 untuk Linux Dirilis Google Tanpa Pengumuman Resmi
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Aturan Sumbangan HUT RI di Surabaya Harus Sukarela Tanpa Paksaan
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Sean Diddy Combs Menjalani Hukuman Isolasi Usai Terlibat Perkelahian Penjara
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Pilihan perangkat elektronik paling diminati pembeli di Amazon
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Kasus Eric Adjepong: Pelanggaran Perintah Perlindungan Mantan Istri
Senin / 27-07-2026, 23:42 WIB
Aksi N3on dan Ryan Garcia Gelar Cuci Mobil Amal Bantu Korban ICE
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Persija Tumbang di Laga Perdana, Shin Tae-yong Ungkap Kendala Tim
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Respons Kekalahan dari Persebaya, Begini Penjelasan Rio Fahmi
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Striker Keturunan Semarang Mitchell Baker Cetak Dua Gol Debut
Senin / 27-07-2026, 23:28 WIB
Head to Head Timnas Indonesia vs Kamboja: Rekor Pertemuan Skuad Garuda
Senin / 27-07-2026, 23:28 WIB
Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja, Nadeo Ingatkan Skuad Garuda
Senin / 27-07-2026, 23:28 WIB
Kisah Masa Kecil Sandara Park, Nyaris Tak Bicara 10 Tahun di Filipina
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
John Park Bongkar Rahasia Bisa Masuk Klub Malam Berghain di Berlin
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
Young K DAY6 Ungkap Makna di Balik Album Solo Kedua YOUNGEST
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB







