Pengamat: Tarif Baru Trump Tekan Industri Padat Karya RI
Keputusan Presiden AS Donald Trump menetapkan tarif impor permanen 10 persen terhadap produk Indonesia dinilai berpotensi menekan kinerja ekspor nasional, terutama sektor padat karya yang bergantung pada pasar AS.
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan tarif tersebut memang lebih rendah dibandingkan tarif 12,5 persen yang dikenakan kepada Vietnam dan China.
>>> Wardah Colour Circuit Hadirkan Beauty Experience Presisi dan Autentik
Namun, selisih 2,5 poin persentase tidak otomatis memberikan keunggulan besar bagi Indonesia.
"Daya saing tetap ditentukan oleh harga, produktivitas, logistik, kualitas, dan kepatuhan rantai pasok," ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia. com, Jumat (24/7).
Ia menjelaskan, kebijakan tarif tersebut bukan lagi bersifat sementara, melainkan menjadi instrumen permanen berbasis Section 301 Trade Act of 1974.
Menurutnya, pemerintah perlu memandang kebijakan itu sebagai sinyal bahwa akses ke pasar AS kini semakin ditentukan oleh kemampuan eksportir membuktikan keterlacakan rantai pasok dan kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan.
Syafruddin menilai dampak tarif 10 persen berpotensi signifikan terhadap produk-produk padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, furnitur, produk kayu, karet, hingga barang konsumsi.
"Beban ekonomi juga tidak berhenti pada tarif. Perusahaan harus menanggung biaya audit, sertifikasi, sistem keterlacakan, verifikasi pemasok, dan dokumentasi ketenagakerjaan," ujarnya.
Ia memperingatkan kebijakan tersebut dapat mengurangi devisa ekspor, menekan produksi, menghambat penyerapan tenaga kerja, hingga melemahkan nilai tukar rupiah apabila surplus perdagangan Indonesia dengan AS menyusut.
Meski demikian, Syafruddin melihat Indonesia tetap memiliki peluang merebut sebagian pesanan dari negara yang dikenai tarif lebih tinggi, selama industri domestik mampu memenuhi standar kualitas dan kepatuhan yang dipersyaratkan pasar AS.
Senada, Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan tarif Indonesia yang lebih rendah tidak boleh langsung dianggap sebagai kemenangan.
Update Terbaru
Chrome ARM64 untuk Linux Dirilis Google Tanpa Pengumuman Resmi
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Aturan Sumbangan HUT RI di Surabaya Harus Sukarela Tanpa Paksaan
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Sean Diddy Combs Menjalani Hukuman Isolasi Usai Terlibat Perkelahian Penjara
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Pilihan perangkat elektronik paling diminati pembeli di Amazon
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Kasus Eric Adjepong: Pelanggaran Perintah Perlindungan Mantan Istri
Senin / 27-07-2026, 23:42 WIB
Aksi N3on dan Ryan Garcia Gelar Cuci Mobil Amal Bantu Korban ICE
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Persija Tumbang di Laga Perdana, Shin Tae-yong Ungkap Kendala Tim
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Respons Kekalahan dari Persebaya, Begini Penjelasan Rio Fahmi
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Striker Keturunan Semarang Mitchell Baker Cetak Dua Gol Debut
Senin / 27-07-2026, 23:28 WIB
Head to Head Timnas Indonesia vs Kamboja: Rekor Pertemuan Skuad Garuda
Senin / 27-07-2026, 23:28 WIB
Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja, Nadeo Ingatkan Skuad Garuda
Senin / 27-07-2026, 23:28 WIB
Kisah Masa Kecil Sandara Park, Nyaris Tak Bicara 10 Tahun di Filipina
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
John Park Bongkar Rahasia Bisa Masuk Klub Malam Berghain di Berlin
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
Young K DAY6 Ungkap Makna di Balik Album Solo Kedua YOUNGEST
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB







