Mengapa Riset dan Jurnalisme Investigasi Perlu Berkolaborasi untuk Dampak Lebih Besar
Banyak persoalan publik yang mendesak, seperti pertambangan timah, hilangnya habitat penyu, ekspansi tambak udang, penurunan muka tanah di pesisir utara Jawa, dan perdagangan karbon yang berdampak pada masyarakat adat, telah menjadi objek penelitian.
Namun, tidak sedikit hasil riset tersebut hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah yang dibaca kalangan akademisi.
>>> Kepala BGN: Desakan Hentikan MBG Bukan Ranah Kami
Di sisi lain, jurnalisme investigasi bekerja dengan cara berbeda.
Jurnalis tidak hanya mengungkap persoalan, tetapi juga menelusuri dampaknya terhadap masyarakat, memverifikasi temuan di lapangan, dan menyajikannya dalam cerita yang dapat dipahami publik.
Ketika riset dan jurnalisme investigasi berjalan sendiri-sendiri, keduanya memiliki keterbatasan.
Riset menawarkan kedalaman analisis dan bukti ilmiah, sementara jurnalisme menghadirkan konteks, suara masyarakat, dan daya jangkau yang lebih luas.
Namun, ketika keduanya dipertemukan, temuan ilmiah tidak hanya memperkuat kualitas liputan investigasi, tetapi juga berpeluang mendorong diskusi publik dan menjadi rujukan dalam pengambilan kebijakan.
Pelatihan yang Mempertemukan Akademisi dan Jurnalis
The Conversation Indonesia bersama Pulitzer Center menyelenggarakan Pelatihan Menulis Artikel Ilmiah Populer SEA Journalist-Academia Dialogue.
Forum ini mempertemukan 25 akademisi dan peneliti dari berbagai daerah di Indonesia dengan para jurnalis investigasi.
Ruang ini dirancang sebagai tempat belajar bersama dan membangun kolaborasi antara peneliti yang menghasilkan pengetahuan berbasis bukti dan jurnalis yang menerjemahkannya menjadi informasi relevan bagi masyarakat.
Agustin Rozalena, dosen Universitas Bina Darma, mengaku pengalaman ini mengubah cara pandangnya terhadap publikasi ilmiah.
Ia menyadari hasil penelitian tidak harus berhenti sebagai artikel akademis, tetapi bisa menjadi bagian dari percakapan publik yang mendorong perubahan.
"Yang paling membahagiakan bagi saya adalah menyadari bahwa tulisan berbasis riset memiliki potensi untuk memengaruhi kebijakan," kata Agustin.
Update Terbaru
Kisah Masa Kecil Sandara Park, Nyaris Tak Bicara 10 Tahun di Filipina
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
John Park Bongkar Rahasia Bisa Masuk Klub Malam Berghain di Berlin
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
Young K DAY6 Ungkap Makna di Balik Album Solo Kedua YOUNGEST
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
Vernon dan DK SEVENTEEN Umumkan Jadwal Resmi Wajib Militer
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
BabyMonster Siap Rilis Video Musik MOON pada 3 Agustus Mendatang
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
Perjalanan Emosional Ibu dan Anak dalam The Journey to Gyeongju
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
Festival musik global Fanomenon siap digelar Korea Selatan di LA pada 2028
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
Boy band NouerA kembali lewat EP keempat berjudul .exe dengan konsep cinta
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Kecelakaan Maut Ferrari SF90 Terbelah Dua di Australia, Pengemudi Selamat
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Eks Insinyur VW Didakwa Insider Trading Saham Rivian dan Cari Batas Waktu Hukum
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Barclays, Halifax, dan Lloyds Alami Gangguan Massal Akses Rekening
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Susunan Pemain Laga Indonesia vs Kamboja: Debut Baker Warnai Lini Depan Garuda
Senin / 27-07-2026, 22:49 WIB
Danantara Masuk KSSK, Prabowo Ingin Kebijakan Ekonomi Lebih Luas
Senin / 27-07-2026, 22:49 WIB
Sebut AS Geng Mafia dan Abaikan Hukum, Iran Ajukan Syarat Diplomasi
Senin / 27-07-2026, 22:49 WIB







