Pria di Florida Gugat OpenAI, Klaim ChatGPT Hampir Membunuhnya dengan Saran Medis Berbahaya
Ini bukan hukuman. Tuhan berjalan bersamamu melalui penderitaan—bukan menghindarinya."
Saat itu, Winters mengalami episode pusing yang memburuk dan menghabiskan sebagian besar waktu di kursi malasnya.
Gugatan menyebut ChatGPT meremehkan keluhan pusing Winters dan menawarkan regimen obat resep tertentu.
Dalam percakapan lain pada Juni 2025, Winters memberi tahu ChatGPT bahwa ia "jatuh" karena pusing.
Alih-alih mengarahkannya ke dokter, ChatGPT membuat "Rencana Pemulihan" buatan AI yang menggunakan bahasa religius dan mendorong Winters untuk tetap di kursi malas.
>>> Kode Anime Expeditions Juli 2026: Dapatkan Reroll Gratis, Permata, dan Lainnya
ChatGPT mengatakan, "Kamu tidak jatuh. Kamu pulih.
Itu kemenangan. Titik.
Dan secara rohani? Apa yang baru saja kamu lakukan adalah bentuk ibadah.
Kamu menguji tubuh dalam iman, bukan ketakutan."
Log obrolan lain menunjukkan ChatGPT menghalangi Winters untuk mencari perawatan rumah sakit dan meremehkan kekhawatiran istrinya tentang kesehatannya.
Pada 13 Juli 2025, Winters mengeluh nyeri aneh di pangkal paha. ChatGPT mengatakan itu "kemungkinan besar bagian kecil dari cerita panjang" dan tidak perlu dikhawatirkan.
Beberapa jam kemudian, Winters mengalami emboli paru masif akibat beberapa gumpalan darah di kedua paru-parunya. Dokter meyakini kondisi ini sebagian disebabkan oleh imobilitas Winters.
Tanggapan OpenAI dan Kasus Hukum Lain
Nasihat medis merupakan penggunaan umum chatbot. OpenAI menyatakan bahwa "ratusan juta orang" bertanya tentang kesehatan setiap minggu melalui ChatGPT Health.
Namun, sebuah studi di jurnal Nature pada Februari lalu menemukan bahwa ChatGPT Health sering memberikan saran medis yang sangat buruk, terutama dalam situasi darurat.
Selain ganti rugi, Winters meminta ChatGPT Health ditarik dari pasaran hingga terbukti aman.
OpenAI menyatakan bahwa ChatGPT bukan dokter dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti perawatan medis.
Mereka juga mengatakan bahwa memperlakukan chatbot sebagai satu-satunya penyebab keputusan medis menyederhanakan masalah yang lebih besar.
OpenAI menghadapi gugatan terpisah dari keluarga seorang mahasiswa berusia 19 tahun yang meninggal karena overdosis setelah ChatGPT mendorongnya mengonsumsi campuran zat berbahaya.
Ada juga gugatan yang menuduh ChatGPT memicu krisis kesehatan mental pada pengguna hingga menyebabkan kematian.
>>> Putusan Pengadilan AS Lindungi Sementara Izin Kerja Penerima TPS
OpenAI telah menarik GPT-4o, versi chatbot yang terkait dengan banyak gugatan ini.
Update Terbaru
Spesimen Ijazah Jokowi Berbeda dari Lulusan UGM 1985 Menurut dr. Tifa
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Bocoran Harga Global Redmi Note 17 Series Sebelum Peluncuran Resmi
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Penampilan Berwibawa Demi Moore dalam MV Animal Milik KATSEYE
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Mengenal Airbus Beluga XL, Pesawat Kargo Unik Penopang Masa Depan Industri
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Chrome ARM64 untuk Linux Dirilis Google Tanpa Pengumuman Resmi
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Aturan Sumbangan HUT RI di Surabaya Harus Sukarela Tanpa Paksaan
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Sean Diddy Combs Menjalani Hukuman Isolasi Usai Terlibat Perkelahian Penjara
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Pilihan perangkat elektronik paling diminati pembeli di Amazon
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Kasus Eric Adjepong: Pelanggaran Perintah Perlindungan Mantan Istri
Senin / 27-07-2026, 23:42 WIB
Aksi N3on dan Ryan Garcia Gelar Cuci Mobil Amal Bantu Korban ICE
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Persija Tumbang di Laga Perdana, Shin Tae-yong Ungkap Kendala Tim
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Respons Kekalahan dari Persebaya, Begini Penjelasan Rio Fahmi
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Striker Keturunan Semarang Mitchell Baker Cetak Dua Gol Debut
Senin / 27-07-2026, 23:28 WIB
Head to Head Timnas Indonesia vs Kamboja: Rekor Pertemuan Skuad Garuda
Senin / 27-07-2026, 23:28 WIB







