Michelle Obama menekankan keinginannya menanamkan kerendahan hati dan rasa tanggung jawab pada anak-anaknya, bukan rasa penting diri sendiri.

"Saya berusaha membuat ini terasa normal bagi mereka, karena Anda tidak ingin mereka mulai berpikir bahwa semua ini tentang mereka dan tugas mereka hanya menjalani hidup," katanya.

Sebelum masuk universitas, Malia Obama mengikuti perjalanan pendidikan selama 83 hari ke Peru dan Bolivia tanpa publisitas.

Ia bekerja bersama pemandu lokal seperti Gregorio Mamani yang memuji kerendahan hatinya.

"Dia sangat rendah hati, banyak bicara, dan berbicara bahasa Spanyol dengan sangat baik," kenang Mamani.

Perjalanan itu berakhir tak lama sebelum orang tuanya mengantarnya ke asrama kampus di Cambridge, Massachusetts.

"Dia terpesona oleh pemandangan Bolivia," tambah Mamani.

Mantan Presiden Barack Obama kemudian mengakui bahwa meninggalkan putri sulungnya di asrama merupakan momen emosional bagi keluarga.

"Saya bangga tidak menangis di depannya," aku Barack Obama.

Ia mencatat bahwa beban emosional transisi itu terasa sepenuhnya begitu meninggalkan kampus.

>>> Bank Mandiri Perkuat Ekonomi Perempuan di Jawa Tengah Lewat Program Pemberdayaan

"Tapi dalam perjalanan pulang, Dinas Rahasia pura-pura tidak mendengar saya terisak dan membuang ingus. Itu berat," jelas Barack Obama.

Kesulitan menjaga privasi di bawah pengamanan membutuhkan upaya ekstra untuk memfasilitasi pengalaman masa kecil yang biasa.

"Saat anak-anak Anda dalam pengamanan Dinas Rahasia, Anda hampir harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuat hidup mereka normal," ungkap Michelle Obama.

Ia mengingat bahwa bahkan mengatur playdate sederhana memerlukan protokol perlindungan ekstensif dan pemeriksaan keamanan.

"Bayangkan mengatur playdate pertama.

Prosesnya: tim pendahulu harus datang, menginterogasi, dan menggeledah rumah Anda, menanyakan apakah Anda punya narkoba dan senjata," kata Michelle Obama.