Sebuah survei terbaru dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengungkapkan fakta mengejutkan tentang kemampuan literasi mahasiswa di negara-negara maju.

Survei yang melibatkan sekitar 160.000 partisipan dari 38 negara anggota OECD ini menemukan bahwa 8 persen mahasiswa memiliki kemampuan membaca setara anak usia 10 tahun atau lebih rendah.

>>> Clair Obscur: Expedition 33 Disebut sebagai Penerus Spiritual Lost Odyssey

Angka tersebut bervariasi antar negara.

Jerman dan Prancis mencatat angka di bawah 5 persen, sementara Polandia, Israel, dan Amerika Serikat jauh lebih tinggi, masing-masing 21, 20, dan 14 persen.

Kemampuan Matematika Juga Memprihatinkan

Kondisi serupa juga terjadi pada kemampuan matematika. Secara rata-rata, 9 persen mahasiswa di negara OECD memiliki kemampuan matematika setara anak usia 10 tahun.

>>> Otoritas Australia Minta Publik Hormati Anjing Laut Gajah Neil yang Viral

Di Italia, AS, dan Slovakia, angka tersebut melonjak di atas 15 persen. Israel kembali menjadi yang terburuk dengan 21 persen mahasiswa berada di level tersebut.

Para ahli memperkirakan beberapa faktor penyebab, termasuk dampak pandemi terhadap kesenjangan pembelajaran, penurunan standar penerimaan mahasiswa baru, dan berkurangnya pendanaan pendidikan.

Selain itu, maraknya penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT juga disebut-sebut memperburuk situasi karena memudahkan kecurangan akademik.

>>> Derby Magic Weekend: Hull KR vs Hull FC, Pertarungan Saudara dan Gengsi Kota

Menariknya, sebuah eksperimen di Minneapolis menunjukkan bahwa melarang penggunaan ponsel dan laptop di kelas dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam membaca dari 46 persen menjadi 95 persen dalam beberapa bulan.