Monosodium Glutamat (MSG) selama bertahun-tahun mendapat stigma sebagai bahan tambahan yang tidak sehat. Banyak orang menghindari MSG karena percaya dapat memicu masalah kesehatan.

Namun, berbagai penelitian ilmiah justru menunjukkan anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Persepsi negatif terhadap MSG telah berkembang puluhan tahun dan menjadi mitos yang terus diwariskan.

>>> Menteri Kebudayaan Usulkan Museum Pos Indonesia Bandung Jadi Cagar Budaya Nasional

Di tengah tren hidup sehat, informasi yang benar mengenai MSG menjadi penting agar masyarakat dapat memilih berdasarkan fakta, bukan asumsi.

Data dari FDA dan WHO menunjukkan kandungan natrium dalam MSG hanya sekitar 12 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan garam dapur yang mengandung sekitar 40 persen natrium.

Fakta ini membuka perspektif baru bahwa penggunaan MSG secara tepat dapat menjadi cara mengurangi asupan natrium dari garam.

Temuan dalam Journal of Food Science mengungkapkan penggunaan MSG yang tepat mampu mengurangi kebutuhan garam hingga 30 persen tanpa mengorbankan cita rasa makanan.

MSG juga meningkatkan penerimaan rasa sehingga makanan tetap lezat meski kadar garam dikurangi.

Bahan ini berasal dari proses fermentasi, termasuk fermentasi tebu, yang menghasilkan glutamat. Glutamat secara alami juga terdapat pada tomat, keju, dan jamur.

Kampanye #MSGYangBenar di Surabaya

Melihat masih banyaknya kesalahpahaman, PT Sasa Inti menggelar kampanye edukasi #MSGYangBenar melalui acara “MSG: Satu Sendok, Sejuta Mitos” di Alun-Alun Surabaya pada 30 Juni 2026.

Kampanye ini bertujuan mengajak masyarakat melihat kembali mitos MSG berdasarkan sudut pandang ilmiah.

“MSG bukan musuh, melainkan solusi memasak praktis bagi keluarga Indonesia agar makanan sehat dan bergizi semakin lezat.

>>> Golkar Imbau NU Fokus Nasihati Negara, Jangan Sibuk Cari Pemenang Pilpres