Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengusulkan Museum Pos Indonesia di Bandung untuk ditingkatkan statusnya menjadi cagar budaya nasional.

Usulan itu disampaikan saat ia meninjau museum yang berlokasi di Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada Jumat malam (3/7/2026).

>>> Golkar Imbau NU Fokus Nasihati Negara, Jangan Sibuk Cari Pemenang Pilpres

Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon didampingi Direktur Komersial PT Pos Indonesia (Persero) Fahdel Akbar beserta jajaran manajemen.

Menurut Fadli Zon, bangunan museum yang telah berdiri lebih dari satu abad itu sangat layak menjadi cagar budaya nasional.

"Saya kira ini sangat pantas menjadi cagar budaya nasional. Bangunan ini usianya sudah lebih dari 100 tahun dan menjadi bagian penting dari sejarah bangsa," ujarnya.

Saat ini, Gedung Pos tempat museum berada telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kota.

Dorong Penataan dan Budaya Menulis Surat

Fadli Zon juga mendorong agar penataan Museum Pos Indonesia terus ditingkatkan.

Ia berharap koleksi bersejarah seperti peralatan pos, prangko, surat, dan perlengkapan pengiriman dari berbagai era dapat dipamerkan secara lebih representatif.

>>> Sains Jadi Fondasi Kecantikan: Riset di Balik Produk yang Dipakai Jutaan Orang

Menurutnya, koleksi tersebut merupakan bagian dari perjalanan sejarah Indonesia yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.

Selain itu, Menteri Kebudayaan mengajak Pos Indonesia untuk kembali membudayakan tradisi menulis surat, khususnya di kalangan pelajar.

"Menulis surat dengan tulisan tangan mampu membangun ekspresi, kreativitas, serta kedekatan emosional yang tidak tergantikan oleh teknologi digital," jelasnya.

Fadli Zon mencontohkan lomba menulis surat kepada pahlawan yang digelar Kementerian Kebudayaan tahun lalu.

Dalam satu bulan, kegiatan itu berhasil menghimpun sekitar 34.000 surat dari siswa SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa dari berbagai daerah.

>>> EcoFlow Buka Store Resmi di Tangerang, Perluas Akses Solusi Energi Pintar

Seluruh surat ditulis di atas kertas, dimasukkan ke amplop, ditempeli prangko, dan dikirim melalui Pos Indonesia. Jumlah surat yang diterima mencapai sekitar 20 kontainer plastik.