Panel bertajuk "Japan to the US: How Manga is Acquired and What Breaks Through?" di Anime Expo 2026 menghadirkan para penerbit manga terkemuka.

Mereka membahas proses lisensi manga dari Jepang ke Amerika Serikat.

Leyla Aker dari Square Enix Manga & Books menyatakan bahwa 99,99% orang yang bekerja di bidang manga melakukannya karena cinta.

"Ada kegilaan lembut tertentu yang harus Anda miliki," ujarnya.

Para panelis sepakat bahwa meskipun dipandu oleh hati, mereka tetap harus mempertimbangkan kelayakan komersial sebuah judul.

Analisis data seperti tipe karakter, cerita, daya tarik seni, dan tingkat kejenuhan genre menjadi pertimbangan.

Namun, ada ketegangan mendasar: apa yang dilakukan ketika insting mengatakan sebuah judul memiliki "jus"—sihir tak tereduksi yang akan beresonansi dengan pembaca—tetapi data keras menunjukkan sebaliknya?

Jawabannya adalah mengambil lompatan keyakinan.

Ben Applegate, Director of Publishing Services di Kodansha, menyebut pemilihan judul sebagai "latihan empati".

"Otot yang Anda bangun selama bertahun-tahun adalah kemampuan untuk menempatkan diri Anda di posisi pembaca lain," jelasnya.

Hope Donovan dari Viz Media menambahkan bahwa terkadang reaksi instingtual terhadap sebuah karya menjadi data yang paling meyakinkan.

"Anda tergerak oleh sesuatu dan berpikir 'orang lain juga akan tergerak oleh ini'," katanya.

Rebecca Taylor, Editor In Chief di Inklore, mengakui sisi emosional dari lisensi, tetapi menekankan bahwa keputusan tetap dibuat dengan hati-hati dan didukung data analitis sebanyak mungkin.

Data penjualan industri secara keseluruhan bisa menjadi barometer yang berguna. Jika penjualan naik, perusahaan akan mengambil lebih banyak risiko.

"Ada elemen keberanian," kata salah satu panelis.

Namun, data keras juga bisa menyesatkan. "Jika Anda bisa mendeskripsikan manga sebagai bagian dari tren, tren itu sudah berakhir," ujar panelis lain.