Orang tua kiper Cape Verde, Josimar José Évora Dias yang dikenal sebagai Vozinha, berbagi kisah pengorbanan mereka di balik perjalanan sang putra menuju Piala Dunia 2026.

Jose Pedro Dias dan Ana Cândida Évora membesarkan putra-putra mereka yang gemar sepak bola di tengah kesulitan ekonomi di Mindelo.

>>> Argentina Kalahkan Cape Verde, Lolos ke 16 Besar Piala Dunia

Ayah Vozinha bekerja sebagai militer, sementara ibunya sebagai pembantu rumah tangga. Keluarga besar sering membantu mereka mengatasi kesulitan sehari-hari.

Karena jadwal kerja yang padat, Vozinha dan saudaranya Delmiro menghabiskan masa kecil di bawah asuhan kakek-nenek mereka.

Nenek mereka, Maria Senhorinha dos Santos, bahkan menggadaikan perhiasan untuk mendukung cucu-cucunya.

Vozinha mengakui bahwa almarhum kakek-neneknya adalah fondasi nilai-nilai pribadi dan kekuatan emosionalnya selama masa pertumbuhan.

Ayahnya, Jose Pedro Dias, mengungkapkan kebanggaan mendalam atas pengakuan global yang diraih putranya selama pertandingan di Amerika Serikat.

"Sebagai seorang ayah, saya merasa sangat bangga... Semua warga Cape Verde saat ini merasa bangga," ujar Jose Pedro Dias.

Julukan Vozinha berasal dari pertandingan sepak bola jalanan masa kecil, di mana teman-temannya mengejeknya karena lari ke nenek setelah terkena pukulan.

>>> BlaBlaCar Resmi Hadir di Indonesia, Tawarkan Carpooling untuk Tekan Biaya Perjalanan

Ejekan masa kecil itu justru menjadi identitas profesionalnya hingga kini.

Ayahnya awalnya ingin menamainya seperti Jorge Valdano dari Argentina, tetapi otoritas Cape Verde menolak nama asing pada 1986.

Akhirnya ia memilih nama Josimar.

Saudaranya, Delmiro, juga menjadi pemain profesional sebagai bek.

Melalui penggalangan dana dan intervensi politik, terkumpul 15.000 dolar AS untuk membantu ibunya mengatasi kendala visa dan menyaksikan penampilan Vozinha secara langsung.

Hal ini terjadi setelah jumlah pengikut media sosial Vozinha melonjak drastis selama turnamen.

>>> BTSE Group Resmi Masuk Indonesia, Sasar Pasar Kripto Teregulasi

Sebelum berkomitmen penuh pada sepak bola profesional, kiper berusia 40 tahun itu belajar pekerjaan listrik dari ayahnya dan melatih tim voli lokal di Mindelo.