Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap penyebab lonjakan harga bawang putih impor di pasar domestik.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor utama.

>>> 9 Rekomendasi Lipstik Murah untuk Bibir Hitam, Mulai Rp20 Ribu

Selain itu, konflik geopolitik global turut mendorong kenaikan biaya energi fosil untuk transportasi logistik.

Hal ini berdampak langsung pada harga bawang putih yang sebagian besar dipasok dari luar negeri.

"Kenaikan bawang putih ini terutama disebabkan oleh peningkatan biaya logistik dan juga adanya penguatan nilai tukar Dolar Amerika terhadap Rupiah," jelas Ateng dalam Konferensi Pers Berita Resmi Statistik (BRS), Rabu (1/7/2026).

>>> 5 Sepatu Sekolah Lokal Paling Awet Mulai Rp100 Ribuan

Andil Inflasi Bawang Putih

Ateng menegaskan, pergerakan inflasi komoditas pangan impor sangat dipengaruhi ongkos angkut jalur laut internasional. Keperkasaan dolar AS juga menggelembungkan biaya tebus importir.

Bawang putih memberikan andil inflasi sebesar 0,03% pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Sementara bawang merah menyumbang 0,04% dan beras 0,02%.

Ketergantungan pada pasokan impor menuntut pemerintah mempercepat program substitusi pangan lokal. Selama nilai tukar rupiah masih fluktuatif, harga pangan impor akan terus membebani daya beli masyarakat.

>>> BPJS Kesehatan Jamin Rekam Medis Tak Terbuka di RUU Satu Data

Sebelumnya, Kementerian Pertanian menggandeng BUMN dan pemerintah daerah untuk mempercepat pengembangan lahan bawang putih nasional. Langkah ini diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap impor.