Penjualan mobil operasional perusahaan sering menjadi tantangan. Banyak perusahaan justru menerima harga di bawah ekspektasi akibat negosiasi yang alot.

Padahal, kendaraan eks-perusahaan memiliki daya tarik tinggi di pasar mobil bekas.

>>> Program Rumah Subsidi Prabowo Dilirik Swasta, Harga Dinilai Stabil

Survei menunjukkan 65–70 persen calon pembeli tertarik pada mobil eks-perusahaan karena legalitas dokumen jelas dan perawatan berkala yang konsisten.

Meski diminati, depresiasi nilai aset menjadi kendala.

Berdasarkan analisis Deloitte dan PwC, nilai kendaraan operasional bisa menyusut 15–20 persen di tahun pertama, dan terus menurun hingga sekitar 50 persen dari harga perolehan di tahun kelima.

Pada fase ini, pembeli sering menggunakan trik negosiasi untuk menekan harga. Mereka menyoroti tanda pemakaian fisik, meski legalitas dan riwayat perawatan mobil tersebut baik.

"Banyak perusahaan kehilangan nilai puluhan juta rupiah bukan karena mobil jelek, tetapi karena tidak memiliki data yang membuktikan kondisi kendaraan secara profesional," ujar Ardy Alam, CEO Garasi.

id.

>>> Xiaomi Luncurkan Kipas Genggam Mijia dengan Warna Hijau Baru

Titik Kritis yang Sering Digunakan Menekan Harga

Bagi perusahaan yang akan menjual kendaraan operasional berusia 4–5 tahun, memahami area yang menjadi bahan negosiasi penting.

Berikut dua titik kritis yang perlu diperhatikan.

Pertama, struktur bodi dan tulang sasis. Pembeli profesional akan memeriksa kelurusan panel bodi, bekas pengelasan, dan ketebalan cat.

Indikasi benturan, meski ringan, bisa memangkas harga jual hingga puluhan juta rupiah.

Kedua, kesehatan transmisi otomatis. Mobil operasional yang sering menghadapi kemacetan berisiko mengalami keausan transmisi.

>>> Gaya Lisa BLACKPINK Berkuda Usai Dikabarkan Putus dari Pacar Miliarder

Gejala seperti perpindahan gigi terlambat atau menghentak sering dijadikan alasan potongan harga besar.