Faisal menjelaskan bahwa El Nino diperkirakan berlangsung 9 hingga 12 bulan. Namun, bukan berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode itu.

"Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau.

Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal, sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," kata dia.

Wilayah Paling Terdampak

Faisal mengungkap deretan wilayah yang berpotensi paling terdampak El Nino di tengah musim kemarau.

Wilayah itu meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.

Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di daerah-daerah tersebut diperkirakan berada di bawah normal dibanding rata-rata klimatologis.

Selain berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air, fenomena ini juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara, serta gangguan kesehatan seperti ISPA dan penyakit akibat paparan suhu panas.

>>> Haaland Jadi Pahlawan, Norwegia Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026

Di sektor pangan dan pertanian, BMKG mengingatkan risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air.