Turki Tangguhkan Insentif Pajak BYD Imbas Pabrik Mangkrak
Pemerintah Turki resmi menangguhkan pembebasan pajak impor bagi kendaraan BYD. Langkah ini diambil karena pabrik senilai 1 miliar dolar AS di Manisa belum menunjukkan kemajuan pembangunan.
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Turki memperingatkan bahwa BYD wajib mengembalikan seluruh insentif yang telah dinikmati. Proyek yang diharapkan menjadi pusat produksi kendaraan listrik itu masih jalan di tempat.
>>> Persaingan Grup G Piala Dunia 2026 Memanas Setelah Semua Tim Seri
"Karena tidak ada progress selama beberapa waktu, kami menangguhkan insentif yang telah digunakan perusahaan sejak awal tahun 2026," ujar pejabat kementerian seperti dikutip dari Nikkei Asia.
Pejabat tersebut menegaskan bahwa perjanjian investasi dengan BYD masih berlaku.
"Jika investasi tidak selesai, perusahaan wajib mengembalikan insentif berdasarkan pengaturan hukum dan komitmen yang telah mereka buat," lanjutnya.
Kesepakatan Awal dan Realisasi
Pada Juli 2024, BYD sepakat membangun pusat penelitian dan pabrik berkapasitas 150.000 kendaraan listrik per tahun.
Proyek ini diproyeksikan menyerap 5.000 tenaga kerja dan mulai beroperasi pada akhir 2026.
>>> Dedi Mulyadi Imbau Calon Siswa Jabar Tak Paksakan Sekolah Penuh
Sebagai imbalan, Turki memberikan pembebasan pajak impor dan kemudahan regulasi layanan purnajual.
Namun, konstruksi di Manisa belum dimulai sama sekali, memicu kekhawatiran di internal pemerintahan dan kritik dari parlemen oposisi.
Situasi semakin memanas setelah muncul laporan bahwa BYD memiliki prioritas wilayah lain.
Wakil Presiden Eksekutif BYD Stella Li menyatakan fokus utama perusahaan saat ini adalah pabrik di Hungaria yang ditargetkan beroperasi akhir tahun ini.
Mengenai ketidakpastian di Turki, Stella Li memberikan sinyal penundaan tanpa kepastian jadwal. Ia menyebut prioritas kedua perusahaan adalah mencari fasilitas produksi lain di Eropa.
>>> Empat Hari Besar Internasional dan Komunitas yang Diperingati Setiap 16 Mei
Hingga saat ini, BYD belum memberikan komentar resmi terkait ancaman sanksi pengembalian insentif dari pemerintah Turki.
Update Terbaru
Cuktech Power Bank 600 Meluncur dengan Daya 600W, Bisa Nyalakan Ketel dan Bor
Rabu / 01-07-2026, 11:15 WIB
9 Merek Skincare Organik Aman untuk Ibu Hamil dan Menyusui
Rabu / 01-07-2026, 11:15 WIB
North West Pamer Tindikan Bibir di Paris Fashion Week
Rabu / 01-07-2026, 11:15 WIB
Harga BBM Non Subsidi Turun, Pertamax Tetap Rp16.250 per Liter
Rabu / 01-07-2026, 11:14 WIB
Insentif EV Molor Lagi, Pemerintah Lebih Fokus Mobil Nasional
Rabu / 01-07-2026, 11:14 WIB
Film Obsession Tawarkan Teror Cinta Berujung Maut, Ini Sinopsis Horor Psikologis yang Viral di X
Rabu / 01-07-2026, 11:08 WIB
Teori Penggemar: Cyberpunk: Edgerunners Season 2 Bisa Berdarah di Awal
Rabu / 01-07-2026, 11:05 WIB
Badai Tunda Laga Meksiko vs Ekuador di Piala Dunia, Wartawan Senior Pensiun
Rabu / 01-07-2026, 11:05 WIB
Suami Sarah Gibson Kerja Apa? Diska Resha Putra Ternyata Pengusaha dan Pernah Jadi Manajer Klub Sepak Bola
Rabu / 01-07-2026, 11:02 WIB
Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 2 - 5 Juli 2026
Rabu / 01-07-2026, 11:02 WIB
Mesin Pinball Lego Fungsional Jadi Set Terbaik Juli 2026
Rabu / 01-07-2026, 11:01 WIB
Yordan Alvarez Pukul Grand Slam, Astros Kalahkan Twins 6-4
Rabu / 01-07-2026, 11:01 WIB
Suporter Meksiko Teriakkan Nyanyian Homofobik ke Kiper Ekuador
Rabu / 01-07-2026, 11:00 WIB






