Penyesuaian Harga Pertamax Rp16.250 per Liter Picu Pro dan Kontra
Keputusan pemerintah dan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter memicu perdebatan di masyarakat.
Di satu sisi, kebijakan ini dinilai realistis untuk menjaga kesehatan keuangan Pertamina. Namun di sisi lain, kenaikan berpotensi menambah beban pengeluaran masyarakat dan menekan sektor ekonomi.
>>> Amerika Serikat Puncaki Klasemen Grup D Piala Dunia 2026 Usai Bantai Paraguay 4-1
Pemerintah menegaskan kenaikan hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi dan tidak menyentuh BBM bersubsidi. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia.
Hingga saat ini, harga Pertalite masih Rp10.000 per liter dan Solar subsidi Rp6.800 per liter.
Alasan Ekonomi di Balik Kenaikan
Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai kenaikan harga Pertamax merupakan konsekuensi yang sulit dihindari. Selama beberapa bulan, Pertamina menahan harga jual di bawah harga keekonomian.
Menurut Hendry, Pertamina menggunakan dana talangan perusahaan untuk menutup selisih harga. Namun mekanisme itu hanya bersifat sementara.
Dia menjelaskan bahwa Pertamax tidak memperoleh subsidi APBN, sehingga harga jual harus mencerminkan kondisi pasar, termasuk fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah membuat biaya penyediaan BBM meningkat signifikan.
Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 19 Tahun 2019, acuan harga menggunakan MOPS (Mean of Platts Singapore) yang sangat tergantung pada nilai tukar rupiah terhadap dolar.
>>> Perbanas: Industri Perbankan Nasional Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global
Menurut perhitungan Yayan, harga keekonomian Pertamax saat ini berkisar Rp14.150 hingga Rp16.650 per liter. Dengan demikian, harga baru Rp16.250 masih dalam rentang wajar.
Update Terbaru
Israel Luncurkan Serangan Baru ke Lebanon, Area Dekat RS Dibom
Jumat / 03-07-2026, 09:23 WIB
Pilot Warga AS Tewas Ditembak OPM di Yahukimo, TNI Evakuasi Jenazah
Jumat / 03-07-2026, 09:23 WIB
Ronaldo Akhiri Kutukan Tak Cetak Gol di Fase Knock Out Piala Dunia
Jumat / 03-07-2026, 09:23 WIB
Strava dan 24 PSE Lain Terancam Diblokir Komdigi Gara-gara Belum Daftar
Jumat / 03-07-2026, 09:23 WIB
Indosat dan Arsari Group Luncurkan Infra Fiber Teknologi, Kelola 86.000 Km Jaringan Optik
Jumat / 03-07-2026, 09:23 WIB
China Tutup 12.200 Jurusan Kuliah di Tengah Tingginya Pengangguran Sarjana
Jumat / 03-07-2026, 09:23 WIB
Cristiano Ronaldo Cetak Gol, Portugal Sikat Kroasia dan Lolos ke 16 Besar
Jumat / 03-07-2026, 09:22 WIB
Naik Rp11.000, Harga Emas Antam Kini Dijual Rp2.651.000 per Gram
Jumat / 03-07-2026, 09:11 WIB
Komut Pertamina: Keselamatan Kerja Fondasi Utama Keandalan Operasional
Jumat / 03-07-2026, 09:11 WIB
Jerome Polin Sentil 'Negara Sakit' soal Vonis Nadiem, Yusril: Kalau Terbukti Ya Dihukum
Jumat / 03-07-2026, 09:11 WIB
Bank Mandiri Salurkan 3.360 Paket Makanan untuk Pekerja Rentan Lewat Livin' Berbagi
Jumat / 03-07-2026, 09:07 WIB
Kasur Jadi Tempat Sampah, Kisah Pria Numpang 4 Tahun yang Bikin Emosi
Jumat / 03-07-2026, 09:06 WIB
5 Parfum Lokal Unisex dengan Kemasan Mewah dan Unik yang Wajib Dikoleksi
Jumat / 03-07-2026, 09:06 WIB
Panduan Mengakhiri Polemik Lewat Klarifikasi Terbuka bagi Jurnalis Babel 2026
Jumat / 03-07-2026, 09:01 WIB






