Profil Park Bom Personel 2NE1 yang Tuduh Sandara Park Terkait Kasus Obat 2014
Park-Instagram-
Jakarta - Personel kembali menjadi sorotan publik setelah mengunggah pernyataan mengejutkan di media sosial. Ia menuding rekan satu grupnya di , , sebagai sosok yang sebenarnya terkait kasus obat-obatan yang menyeret namanya pada 2014.
Dalam laporan yang dimuat pada Selasa (3/3/2026), Park Bom mengunggah surat panjang berisi pengakuan pribadi. Ia menyatakan selama ini dirinya dijadikan kambing hitam atas kasus penyelundupan obat yang terjadi 12 tahun lalu.
Pengakuan Soal Kasus 2014
Menurut Park Bom, obat tersebut disebut-sebut digunakan oleh Sandara Park. Namun, namanya yang kemudian muncul ke publik dan dikaitkan sebagai pelaku.
“Aku menulis ini karena jiwaku rasanya seperti menangis,” tulisnya menutup surat tersebut.
Pada 2014, Park Bom terseret kasus pengiriman 82 tablet Adderall dari Amerika Serikat. Paket tersebut dilaporkan dikirim oleh anggota keluarganya yang tinggal di sana.
Adderall dikenal sebagai obat stimulan sistem saraf pusat yang mengandung amfetamin dan dekstroamfetamin. Secara medis, obat ini digunakan untuk menangani ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder serta narkolepsi karena membantu meningkatkan kadar dopamin dan norepinefrin di otak.
Di Korea Selatan saat itu, obat tersebut tergolong terlarang. Kasus tersebut memicu kontroversi besar dan berdampak langsung pada karier Park Bom, termasuk bertepatan dengan masa vakum 2NE1.
Isi Lengkap Pernyataan Park Bom
Dalam surat yang ia unggah, Park Bom menyebut dirinya mengidap ADHD dan menegaskan bahwa tuduhan yang dialamatkan kepadanya tidak sesuai fakta menurut versinya.
“Halo. Ini Park Bom. Aku menulis ini karena saya ingin menyampaikan kebenaran dan berbicara kepada kalian semua.
Apa kabar? Saya baik-baik saja, tidak sakit, dan menjalani hidup dengan tekun. Aku akan berbagi cerita yang sensitif dan menakutkan. Aku berhati-hati karena mungkin akan menimbulkan kehebohan lagi, tetapi obat psikotropika itu sangat membebani pikiran saya.
Aku tak ingin membicarakan ini lagi. Bahkan jika aku mati, aku takut membicarakannya lagi di media akan menjadi jalan pintas menuju kehancuran. Saat itu aku merasa seperti sudah mati. Tapi sekarang aku berani berbicara.
Aku mengidap ADHD. Park Sandara saat itu tertangkap memiliki narkoba, dan mereka menjadikan aku pecandu narkoba untuk menutupinya.
Tidak ada obat seperti Adderall di Korea Selatan pada saat itu, dan Undang-undang tentangnya pun belum ada. Anehnya, Undang-undang itu dibuat setelah kasusku. Aku mendesak semua orang di internet untuk menyelidiki fakta-fakta sebagaimana adanya.
Aku menulis ini karena jiwaku rasanya seperti menangis. Terima kasih sudah membaca.”
Baca juga: Park Bom Ungkap Versi Lain Kasus Adderall 2014, Sebut Jadi Kambing Hitam demi Sandara Park