close ads x

Profil Biodata John Tobing Pencipta Lagu Perlawanan Darah Juang yang Meninggal Dunia, Lengkap: Umur, Agama dan IG

Profil Biodata John Tobing Pencipta Lagu Perlawanan Darah Juang yang Meninggal Dunia, Lengkap: Umur, Agama dan IG

John-Instagram-

Profil Biodata John Tobing Pencipta Lagu Perlawanan Darah Juang yang Meninggal Dunia, Lengkap: Umur, Agama dan IG. Dunia musik dan gerakan mahasiswa Indonesia kehilangan salah satu sosok pentingnya. Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing, pencipta lagu Darah Juang, meninggal dunia pada Rabu (25/2/2026) malam.

John mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik UGM setelah menjalani perawatan intensif.

Meninggal Setelah Jalani Perawatan Intensif



Rekan almarhum, Joko Utomo, menjelaskan John sempat dilarikan ke rumah sakit sejak subuh dan dinyatakan wafat pada malam harinya.

"Masuk ke RS subuh tadi. (Dinyatakan) meninggal pukul 20.45 WIB di RSA UGM," ujar Joko, Rabu malam.

Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Duka Arimatea RS Bethesda, Kota Jogja. Sejumlah karangan bunga tampak memenuhi area luar rumah duka, di antaranya dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Ketua Komisi XII DPR RI Willy Aditya.

Sempat Keluar-Masuk Rumah Sakit


Putra bungsunya, Gopas Kibar Syang Proudy (18), mengungkapkan ayahnya meninggal akibat henti jantung mendadak.

Kondisi kesehatan John disebut mulai menurun sejak 29 November 2025 dan beberapa kali menjalani rawat inap hingga awal Februari 2026.

Baca juga: Kabar Duka! John Tobing Meninggal Dunia, Pencipta Lagu Perlawanan Darah Juang Berpulang di Usia 59 Tahun

  • 29 November 2025 mulai dirawat di rumah sakit.
  • 28 Januari 2026 sempat kembali ke rumah.
  • 8 Februari 2026 dirawat kembali di RS Hermina selama sekitar satu minggu.
  • 25 Februari 2026 dini hari kembali masuk rumah sakit karena penurunan kesadaran.

Pada Rabu dini hari, ia kembali dilarikan ke rumah sakit dan langsung masuk ruang ICU. Malam harinya, jantungnya berhenti berdetak.

"Ini mendadak sih. Memang kami dari keluarga itu pas sedang di rumah memang, karena di rumah sakit itu dimasukkan ke ruang ICU, tidak bisa ditunggu," kata Gopas.

"Jam 20.45 ditelepon pihak keluarga, terus katanya memang Bapak henti jantung dan memang tidak kembali berdetak lagi," lanjutnya.

Baca juga: Lonjakan Saham Pertahanan Pascaserangan Iran Ditopang Kontrak Pemeliharaan dan Modernisasi

++++

Dimakamkan di Prambanan

John wafat dalam usia 59 tahun 3 bulan. Rencananya, pemakaman akan dilaksanakan Sabtu (28/2) di TPU Madurejo, Prambanan, Sleman.

Keluarga menggelar penghiburan gereja pada Kamis dan Jumat malam pukul 18.30 WIB, serta prosesi adat Matonggo Raja sebagai bagian dari rangkaian penghormatan terakhir.

Lahirnya Lagu Darah Juang

Nama John Tobing lekat dengan lagu Darah Juang, yang lahir pada 1991 di tengah dinamika gerakan mahasiswa melawan rezim Orde Baru.

Sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat UGM angkatan 1991 dan aktivis Partai Rakyat Demokratik, John dikenal aktif dalam gerakan politik bawah tanah pada masanya.

Melodi awal lagu tersebut digubahnya menggunakan gitar akustik di sela diskusi mahasiswa. Liriknya kemudian disempurnakan bersama Dadang Juliantara serta direvisi bersama Budiman Sudjatmiko.

Awalnya, lagu itu belum memiliki judul. Sebutan Darah Juang muncul spontan dalam sebuah forum mahasiswa saat John diminta menyanyikannya. Nama tersebut kemudian melekat dan digunakan hingga kini.

Lagu itu pertama kali dikumandangkan secara luas pada Kongres Pertama Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta. Liriknya yang menggambarkan penderitaan rakyat dan semangat pengabdian menjadikannya simbol perlawanan.

Setelah Orde Baru runtuh, Universitas Gadjah Mada memasukkan lagu tersebut dalam materi Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru sebagai bagian dari pengenalan jati diri mahasiswa.

Sosok Ayah yang Pantang Menyerah

Bagi Gopas, sang ayah bukan hanya figur publik, melainkan sosok sederhana di rumah yang jarang menonjolkan diri.

"Saya sangat menganggap ayah saya itu idola saya. Saya baru sadar karena memang dia itu kalau di rumah tidak semenonjol itu, jadi seperti layaknya bapak-bapak biasa," tuturnya.

Ia mengaku terharu melihat banyaknya kawan yang datang dan menyanyikan lagu-lagu ciptaan ayahnya.

"Yang buat saya sedih itu karena terakhir itu bapak bilangnya dia ingin bebas. Dia ingin bebas, dia tanya dia kapan sembuh, dia kapan bisa kayak dulu lagi," kata Gopas.

Menurutnya, semangat John tak pernah padam, bahkan hingga dirawat di ICU.

"Kayaknya Gopas sudah nggak usah ngomong semangat lagi sama Bapak, karena Gopas tahu Bapak itu pantang banget buat bilang menyerah," ujarnya.

Darah Juang Disebut Milik Bangsa

Di mata keluarga, Darah Juang bukan sekadar karya, melainkan warisan moral untuk publik.

"Harapan saya sih ya, semoga ya sesuai dengan yang bapak harapkan juga, bahwa Darah Juang ini untuk bangsa, memang untuk bangsa, dan kalaupun dinyanyikan di mana pun, Bapak malah senang," ungkap Gopas.

Ia menambahkan, ayahnya tidak mempersoalkan hak cipta karena berharap lagunya dikenal luas hingga mancanegara dan meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.

TAG:
Sumber:

Berita Lainnya