Ekonom Proyeksikan Inflasi Februari Naik Imbas Ramadan dan Efek Basis Rendah
uang--
Tekanan harga diperkirakan meningkat pada Februari 2026 seiring momentum Ramadan dan efek basis rendah tahun sebelumnya. Sejumlah ekonom memprediksi inflasi bulanan maupun tahunan akan bergerak naik dibanding Januari.
Untuk komponen harga bergejolak (volatile food), inflasi diproyeksikan mencapai 1,5% secara bulanan, berbalik dari deflasi 2% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga cabai rawit, bawang merah, serta minyak goreng menjelang Idulfitri.
Sementara itu, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) diperkirakan mencatat inflasi tipis 0,1% secara bulanan, setelah sebelumnya mengalami deflasi 0,3%. Meski harga BBM nonsubsidi rata-rata turun sekitar 3,1%, tarif penerbangan naik 5,3%.
Kenaikan tarif pesawat sebagian diredam kebijakan diskon tiket sebesar 17%–18% untuk pembelian pada periode 10 Februari hingga 29 Maret.
Inflasi Tahunan Diproyeksikan Tembus 4%
Ekonom PT Bank Permata Tbk Faisal Rachman memperkirakan inflasi indeks harga konsumen (IHK) secara tahunan akan melampaui kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%–3,5%.
Inflasi utama diproyeksikan meningkat menjadi 4,47% year-on-year (yoy) pada Februari 2026, dari 3,55% yoy pada Januari 2026. Lonjakan ini terutama dipengaruhi efek basis rendah akibat diskon tarif listrik pada Februari tahun lalu yang memicu deflasi tahunan.
“Kenaikan ini juga didukung oleh permintaan musiman selama Ramadan, yang tahun ini jatuh pada Februari dibandingkan Maret tahun lalu,” ujar Faisal.
Inflasi inti diperkirakan naik tipis dari 2,45% yoy menjadi 2,5% yoy. Harga emas yang masih tinggi turut menopang kenaikan tersebut.
Meski inflasi utama meningkat, proyeksi inflasi inti yang tetap berada dalam rentang target dinilai membatasi tekanan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan.
Tekanan Bulanan Menguat
Secara bulanan, IHK diperkirakan mencatat inflasi 0,41% month-to-month (mom) pada Februari 2026, berbalik dari deflasi 0,15% mom pada Januari.
Kenaikan ini mencerminkan lonjakan permintaan selama Ramadan, terutama pada kelompok makanan dan minuman, jasa makan minum, serta kebutuhan terkait aktivitas keagamaan.
Harga bergejolak bulanan diprediksi meningkat, terutama pada komoditas seperti daging ayam, cabai rawit, dan cabai merah. Namun, tekanan tersebut berpotensi tertahan oleh penurunan harga bawang merah seiring musim panen hortikultura.
Untuk administered prices, inflasi bulanan juga diperkirakan naik akibat penyesuaian tarif air (PDAM) dan kenaikan tarif transportasi udara serta darat, meski harga BBM nonsubsidi menurun.
Konsensus Pasar
Survei konsensus yang dihimpun Bloomberg menunjukkan median proyeksi inflasi Februari sebesar 0,3% secara bulanan.
Sedangkan secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 4,3% yoy. Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi yang tertinggi sejak April 2023 atau hampir tiga tahun terakhir.