Khutbah Jumat 6 Maret 2026 tentang Hikmah Menjaga Pahala Puasa Ramadan
masjid-Konevi/pixabay-
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Amma ba’du.
Maasyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.
Ramadan adalah bulan pendidikan ruhani. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, serta menata hati agar tetap bersih.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan akhir puasa adalah melahirkan pribadi bertakwa. Artinya, puasa harus berbuah pada perubahan sikap dan akhlak.
Menjaga Keutuhan Pahala Puasa
Saudara-saudara kaum muslimin, pahala puasa dapat berkurang bahkan rusak apabila tidak dijaga dengan baik. Ada beberapa perbuatan yang harus dihindari agar ibadah kita tetap bernilai di sisi Allah.
1. Menjauhi Kebohongan
Bohong termasuk dosa besar yang merusak integritas seorang mukmin. Lisan yang tidak dijaga dapat menghilangkan nilai ibadah yang sedang dijalankan.
Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah para pendusta.” (QS An-Nahl: 105)
Puasa menuntut kejujuran lahir dan batin. Menahan diri dari dusta merupakan bagian dari menjaga kesempurnaan ibadah.
2. Menghindari Adu Domba
Namimah atau adu domba berpotensi memecah persaudaraan dan menimbulkan permusuhan. Islam dengan tegas melarang perbuatan ini.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍ
Artinya: “Dan janganlah engkau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela dan ke sana kemari menyebarkan fitnah.” (QS Al-Qalam: 10–11)
Selain itu, Allah juga memerintahkan agar setiap kabar diteliti terlebih dahulu sebagaimana dalam QS Al-Hujurat ayat 6. Sikap tabayun menjadi benteng agar tidak terjerumus dalam dosa.
3. Menahan Diri dari Ghibah
Menggunjing merupakan perbuatan tercela yang diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal.