close ads x

Punch Bayi Monyet Jepang Viral, Ahli Primata Soroti Dampak Emosional

Punch Bayi Monyet Jepang Viral, Ahli Primata Soroti Dampak Emosional

Puch--

Kisah Punch, bayi monyet Jepang, menyita perhatian warganet setelah video dirinya memeluk boneka orangutan beredar luas di media sosial. Sejak lahir, Punch disebut tidak diasuh oleh induknya dan kini menjadikan boneka tersebut sebagai sumber rasa aman.

Pemandangan itu memicu simpati publik. Namun di balik viralnya video tersebut, para ahli mengingatkan ada sisi emosional yang tak boleh diabaikan.

Kebutuhan Emosional Primata Sejak Bayi



Michael Stern, ahli primatologi lulusan Universitas Harvard, menjelaskan bahwa primata memiliki kebutuhan emosional yang kuat sejak masa bayi. Menurutnya, secara ilmiah hampir seluruh mamalia memiliki emosi dasar yang serupa dengan manusia.

Karena itu, setiap bayi primata membutuhkan figur untuk dicintai dan dijadikan tempat bergantung. Dalam kasus Punch, ia menilai boneka tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran induk.

"Bagi saya, agak sedih bawa yang dia memiliki hanyalah boneka binatang itu," ujar Stern dalam keterangannya.


Ia menegaskan, kehadiran induk di lingkungan alami memberikan rangsangan sosial dan emosional yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh manusia maupun benda mati.

Adaptasi Sosial Tetap Berperan

Stern memahami mengapa banyak orang merasa terenyuh melihat Punch berlari ke arah boneka untuk mencari kenyamanan. Meski demikian, ia menilai keberadaan Punch di dalam kelompok sosial monyet masih memberi peluang proses adaptasi berjalan seiring waktu.

"Saya pikir orang-orang benar merasa sedikit sedih ketika melihatnya berlari ke boneka binatang untuk mencari kenyamanan," katanya.

Interaksi dengan sesama monyet, menurutnya, tetap penting dalam membentuk perkembangan sosial jangka panjang.

Respons atas Tawaran Membeli Punch

Nama Punch juga dikaitkan dengan pernyataan tokoh publik Andrew Tate dan Tristan Tate yang secara terbuka menawarkan untuk membelinya dari kebun binatang.

Menanggapi hal itu, Stern menyebut situasi tersebut tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pihak kebun binatang. Ia justru mendorong individu yang peduli untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap kesejahteraan satwa melalui cara yang lebih konstruktif.

Stern mengingatkan, potongan video yang beredar di internet mungkin hanya memunculkan emosi sesaat bagi manusia. Namun bagi hewan yang bersangkutan, kondisi itu adalah bagian dari seluruh kehidupannya.

Baca juga: Mas Duqi Kremes Alami Serangan Stroke Saat Live TikTok hingga Videonya Ditonton 35 Juta Kali

TAG:
Sumber:

Berita Lainnya