Ramadhan Membentuk Ketakwaan Jangan Sampai Puasa Hanya Tinggalkan Lapar dan Dahaga! Inilah Khutbah Jumat, 20 Februari 2026
masjid-pixabay-
Memasuki Ramadhan 1447 Hijriah, umat Islam kembali dipertemukan dengan bulan penuh keberkahan yang selalu dinanti. Momentum ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang pembinaan diri agar kualitas iman dan ketakwaan meningkat.
Puasa tidak berhenti pada menahan makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Ibadah ini memiliki tujuan jauh lebih dalam, yakni membentuk pribadi yang tunduk dan taat kepada Allah SWT.
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Amma Ba’du.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, marilah kita memperkuat ketakwaan dengan menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan menjadi bekal keselamatan, baik dalam kehidupan dunia maupun di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa bertujuan membentuk insan bertakwa. Tanpa kesadaran ini, puasa bisa kehilangan makna dan hanya menjadi rutinitas tahunan.
Rasulullah SAW telah mengingatkan:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
“Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)
Peringatan ini menunjukkan bahwa ibadah yang tidak disertai perbaikan sikap dan iman berpotensi sia-sia.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR Bukhari no. 1903)
Karena itu, puasa sejati menuntut penjagaan lisan, pengendalian pandangan, serta pengawasan hati dari iri, dengki, dan kebencian.
Ramadhan hendaknya menjadi titik awal perubahan. Niat diperbarui, ibadah ditingkatkan, dan perbuatan tercela ditinggalkan agar pahala puasa tidak tergerus.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Ramadhan merupakan kesempatan besar untuk meraih ampunan Allah SWT. Kesempatan ini tidak datang setiap saat dan tidak semua orang dapat menjumpainya kembali.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa keimanan dan keikhlasan menjadi kunci diterimanya ibadah.