Apa Itua Rabu Abu? Menjadi Awal Masa Prapaskah dan Momentum Pertobatan Umat Katolik

Apa Itua Rabu Abu? Menjadi Awal Masa Prapaskah dan Momentum Pertobatan Umat Katolik

rabu abu-pixabay-

Rabu Abu menandai dimulainya masa Prapaskah dalam kalender liturgi Gereja Katolik. Hari ini membuka rangkaian 40 hari persiapan rohani menuju perayaan Paskah, saat umat mengenangkan kebangkitan Yesus Kristus.

Momen ini dipahami sebagai ajakan untuk memperbarui hidup melalui pertobatan, doa, puasa, dan karya kasih. Tanda abu yang dibubuhkan di dahi menjadi simbol kuat akan keterbatasan manusia sekaligus panggilan untuk kembali kepada Tuhan.

Penanda Dimulainya 40 Hari Prapaskah



Masa Prapaskah berlangsung selama 40 hari sebelum Paskah, tidak termasuk hari Minggu. Periode ini menjadi waktu refleksi mendalam bagi umat beriman untuk menyiapkan hati menyambut misteri wafat dan kebangkitan Kristus.

Angka 40 memiliki makna penting dalam tradisi Kitab Suci. Bilangan ini merujuk pada berbagai peristiwa besar, seperti 40 hari air bah pada zaman Nuh, 40 hari Musa berada di Gunung Sinai, serta 40 hari Yesus berpuasa dan dicobai di padang gurun.

Secara liturgis, masa ini dimulai pada Rabu Abu dan berakhir sebelum Misa Perjamuan Tuhan pada Kamis Putih sore. Seluruh rangkaian hari dalam periode tersebut memiliki karakter tobat dan pengendalian diri.

Jejak Sejarah Rabu Abu dalam Tradisi Gereja

Penetapan Tanggal Paskah


Penentuan waktu Paskah menjadi dasar lahirnya masa Prapaskah. Pada Konsili Nicaea tahun 325 M, Gereja menetapkan Paskah dirayakan pada hari Minggu setelah bulan purnama pertama sesudah ekuinoks musim semi.

Setelah ketetapan itu, disepakati pula masa puasa 40 hari sebagai persiapan menyambut Paskah.

Penegasan pada Abad ke-7

Awal resmi Rabu Abu sebagai pembuka Prapaskah ditetapkan pada tahun 601 M oleh Paus Gregorius. Penambahan hari menjadi 46 sebelum Paskah dimaksudkan agar umat tetap menjalani 40 hari puasa efektif, karena hari Minggu tidak dihitung sebagai hari puasa.

Simbol Abu dalam Tradisi Biblis

Penggunaan abu telah dikenal sejak Perjanjian Lama sebagai tanda penyesalan, dukacita, dan kerendahan hati di hadapan Allah. Abu melambangkan kefanaan manusia dan kesadaran akan kebutuhan untuk bertobat.

Dalam ritus Rabu Abu, imam membubuhkan abu berbentuk salib di dahi umat sambil mengucapkan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil,” atau, “Ingatlah, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.”

Baca juga: Harga Cabai Rawit Merah di Mojokerto Tembus Rp 120 Ribu per Kg Jelang Ramadan

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya