Khutbah Jumat 20 Februari 2026 Menguatkan Ilmu agar Puasa Ramadan Tidak Sia-sia

Khutbah Jumat 20 Februari 2026 Menguatkan Ilmu agar Puasa Ramadan Tidak Sia-sia

masjid-pixabay-

Memasuki bulan suci Ramadan, umat Islam tidak hanya dituntut menyiapkan fisik dan mental, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang ibadah yang akan dijalani. Ilmu menjadi bekal utama agar puasa tidak berhenti pada rasa lapar dan dahaga, melainkan menghadirkan ketakwaan yang sejati.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:



يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (البقرة: ١٨٣)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Keutamaan Puasa dalam Hadits Nabi

Rasulullah SAW menjelaskan kemuliaan puasa dalam sabdanya:


كُلُّ عَمَلِ ابْنِ اٰدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي (رواه مسلم)

Artinya: “Setiap amal anak Adam dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR Muslim).

Para ulama menerangkan, penyebutan puasa sebagai ibadah yang “untuk Allah” menunjukkan kemurnian niat di dalamnya. Puasa sulit dipamerkan. Tidak ada yang mengetahui seseorang benar-benar berpuasa kecuali dirinya dan Allah SWT.

Berbeda dengan ibadah yang tampak secara lahiriah, puasa berlangsung tersembunyi. Seseorang bisa saja makan secara diam-diam tanpa diketahui orang lain. Namun ia menahan diri karena keyakinan dan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat.

Pahala Besar dan Kedudukan Puasa

Disebutkan bahwa pahala amal kebaikan dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali. Adapun puasa, ganjarannya tidak disebutkan batasnya. Para ulama menjelaskan, hal itu menandakan keutamaan yang sangat besar dan balasan yang hanya Allah SWT yang mengetahui kadar pastinya.

Dengan puasa yang benar, seorang hamba berpeluang mendapatkan ampunan bahkan keselamatan dari siksa neraka. Meski demikian, para ulama tetap menegaskan bahwa setelah iman, kewajiban paling utama adalah menjaga shalat lima waktu.

Sejarah Kewajiban Puasa Ramadan

Puasa Ramadan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah. Artinya, selama fase dakwah di Makkah hingga awal masa Madinah, umat Islam belum dibebani kewajiban puasa Ramadan.

Penerapan syariat berlangsung bertahap. Hingga akhir hayatnya, Rasulullah SAW menjalankan puasa Ramadan sebanyak sembilan kali.

Hukum Puasa dan Konsekuensinya

Kewajiban puasa Ramadan termasuk perkara yang telah diketahui secara luas dalam ajaran Islam. Mengingkari kewajibannya dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, kecuali bagi mereka yang baru memeluk Islam atau hidup di tempat terpencil yang jauh dari pengetahuan agama.

Sementara itu, orang yang meninggalkan puasa tanpa alasan syar’i namun tetap meyakini kewajibannya, tidak dihukumi kafir. Ia berdosa besar dan wajib mengganti puasa yang ditinggalkan.

Baca juga: Harga Emas Antam 24 Karat Merosot Hari ini 18 Februari 2026: Rp 40.000 ke Level Rp 2.878.000 per Gram

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya