Asal Usul Stigma Semua Warga Keturunan China Dianggap Kaya Raya di Indonesia

Asal Usul Stigma Semua Warga Keturunan China Dianggap Kaya Raya di Indonesia

imlek-pixabay-

Anggapan bahwa seluruh warga keturunan China di Indonesia identik dengan kekayaan telah lama beredar di tengah masyarakat. Narasi ini kerap dikaitkan dengan etos kerja keras dan gaya hidup hemat, seolah menjadi penjelasan tunggal atas kesuksesan ekonomi mereka.

Namun, sejumlah catatan sejarah menunjukkan persepsi tersebut bukan muncul secara alamiah. Akar persoalannya justru berkaitan dengan kebijakan kolonial yang diterapkan ratusan tahun lalu.

Kebijakan Kolonial yang Membentuk Pola Sosial



Pemerintah kolonial Belanda pernah menerapkan dua sistem pengaturan penduduk, yakni Wijkenstelsel dan Passenstelsel. Wijkenstelsel mengelompokkan warga berdasarkan etnis dalam kawasan tertentu, sedangkan Passenstelsel membatasi mobilitas dengan mewajibkan surat izin perjalanan.

Komunitas China menjadi kelompok yang paling terdampak kebijakan tersebut. Kebijakan ini lahir setelah konflik berdarah tahun 1740 di Batavia yang berujung pembantaian ribuan orang China oleh VOC.

Sejak saat itu, komunitas China ditempatkan di kawasan khusus yang kemudian dikenal sebagai Pecinan, termasuk wilayah Glodok di Batavia. Mereka juga diwajibkan membawa identitas serta surat jalan untuk bepergian ke luar kawasan.


Pada masa Hindia Belanda, kebijakan tersebut tidak dihapus. Bahkan, penerapannya diperluas ke berbagai kota di Jawa, seperti Semarang dan Rembang, terutama pada era tanam paksa abad ke-19.

Isolasi yang Melahirkan Kekuatan Ekonomi

Pembatasan ruang gerak membuat komunitas China hidup dalam lingkungan sosial yang relatif terpisah. Interaksi dengan masyarakat pribumi menjadi terbatas karena aturan administratif yang ketat.

Namun, kondisi ini mendorong terbentuknya solidaritas internal yang kuat. Banyak anggota komunitas China berprofesi sebagai pedagang, sehingga jaringan kepercayaan dan kerja sama menjadi modal utama bertahan hidup.

Seiring waktu, kawasan Pecinan berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi. Dari lingkungan ini lahir sejumlah pengusaha besar, termasuk Oei Tiong Ham yang dikenal sebagai Raja Gula dan salah satu orang terkaya di Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Keberhasilan segelintir elite ekonomi inilah yang kemudian membentuk citra kolektif bahwa semua warga keturunan China identik dengan kekayaan. Padahal, realitas sosial menunjukkan keberagaman kondisi ekonomi, mulai dari kelas atas hingga masyarakat berpenghasilan rendah.

Warisan Persepsi Kolonial

Sejarawan Ong Hok Ham menilai kesuksesan ekonomi sebagian warga keturunan China tidak dapat disederhanakan sebagai faktor ras atau semata-mata kerja keras dan hidup hemat.

"Kalau benar kerja keras dan hidup hemat menimbulkan kapitalis, maka petani yang bekerja lebih keras dan hidup lebih hemat daripada pengusaha kota tentu sudah banyak yang jadi jutawan. Faktanya tidak," tulisnya.

Dengan demikian, stigma bahwa seluruh warga keturunan China pasti kaya lebih merupakan warisan kebijakan kolonial yang membentuk struktur sosial-ekonomi tertentu, bukan cerminan realitas menyeluruh masyarakat Indonesia saat ini.

Sumber:

l3

BERITA TERKAIT

Berita Lainnya