Skandal Kontaminasi Susu Formula Seret Nestle, Danone, dan Lactalis ke Investigasi Paris

Skandal Kontaminasi Susu Formula Seret Nestle, Danone, dan Lactalis ke Investigasi Paris

susu-pixabay-

Krisis penarikan susu formula bayi memasuki babak baru setelah otoritas Prancis membuka penyelidikan terhadap sejumlah produsen besar. Jaksa Penuntut Umum Paris pada Jumat (13/2/2026) mengumumkan investigasi terhadap lima perusahaan terkait dugaan distribusi produk yang terkontaminasi.

Penyelidikan ini mencakup tiga grup susu terbesar dunia, yakni Nestle, Danone, dan Lactalis, serta dua merek lain yang lebih kecil, Babybio dan La Marque en Moins. Langkah hukum tersebut memicu kekhawatiran luas di kalangan orang tua sekaligus mengguncang sentimen investor.



Kasus ini bermula dari temuan potensi kontaminasi cereulide, toksin tahan panas yang dapat memicu mual, muntah, dan diare. Pada bayi, paparan zat tersebut berisiko menimbulkan komplikasi yang lebih serius meski gejala umumnya mereda dalam waktu satu hari.

Kejaksaan Paris menyatakan investigasi dilakukan atas dugaan penipuan terkait barang yang membahayakan kesehatan manusia. Jika terbukti, pelanggaran tersebut dapat dikenai hukuman penjara hingga tujuh tahun dan denda maksimum 3,75 juta euro atau sekitar Rp74,25 miliar.

CEO Nestle, Philipp Navratil, sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf atas keresahan yang timbul. “Izinkan saya meyakinkan Anda bahwa keselamatan dan kesejahteraan Anda adalah prioritas utama kami,” ujarnya dalam pernyataan resmi.


Otoritas Prancis mengambil alih penanganan perkara setelah menerima banyak laporan dari berbagai wilayah. Kementerian Kesehatan Prancis juga menyelidiki laporan kematian tiga bayi yang disebut mengonsumsi produk terdampak, meski hingga 11 Februari belum ditetapkan hubungan sebab akibat secara pasti.

Dalam kronologi yang dipublikasikan pada 29 Januari, Nestle mengungkap jejak cereulide pertama kali terdeteksi awal Desember di pabriknya di Belanda. Perusahaan itu menyebut residu ditemukan pada beberapa batch produk jadi.

Pada 10 Desember, Nestle menginformasikan temuan tersebut kepada otoritas Belanda, Komisi Eropa, dan negara-negara terkait, sekaligus menarik 25 produk di 16 negara Eropa. Penarikan publik kemudian diperluas pada Januari untuk merek SMA, Beba, dan Little Steps.

Langkah serupa diambil Danone yang memproduksi Aptamil dan Cow & Gate, serta Lactalis. Hingga kini, penarikan produk telah meluas ke lebih dari 60 negara.

Nestle menyatakan sumber kontaminasi berasal dari pemasok minyak asam arakidonat (ARA), suplemen yang umum ditambahkan dalam susu formula. Identitas pemasok belum diungkap, namun otoritas Inggris memastikan bahan tersebut sudah tidak lagi digunakan oleh Nestle maupun Danone.

Otoritas keamanan pangan Eropa sendiri baru menetapkan ambang batas toksin cereulide pada 2 Februari. Sebelumnya belum ada standar global karena kasusnya tergolong langka. Otoritas Inggris mencatat sedikitnya 36 laporan klinis bayi dengan gejala yang konsisten dengan paparan cereulide.

Dari sisi pasar, investor kini menunggu laporan kinerja keuangan Nestle dan Danone untuk mengukur dampak skandal ini. Analis Bernstein, Callum Elliott, menilai risiko terhadap ekuitas merek lebih signifikan dibanding penurunan pendapatan jangka pendek.

“Bagi Danone, formula bayi jauh lebih penting karena mencakup sekitar 21% dari pendapatan grup menurut perkiraan kami, dan porsinya lebih besar lagi dalam hal profitabilitas,” ujarnya.

Sepanjang tahun berjalan, saham Nestle hanya naik 1,7%, sementara Danone turun 5,5%. Kinerja keduanya tertinggal dari indeks Stoxx 600 yang menguat 4,6% di periode yang sama.

Sumber:

l3

BERITA TERKAIT

Berita Lainnya