Tahun 2030 diperkirakan menjadi momen yang tidak biasa bagi umat Muslim. Dalam satu tahun Masehi, Hari Raya Idul Fitri diproyeksikan terjadi sebanyak dua kali.

Kondisi ini muncul akibat perbedaan sistem penanggalan antara kalender Hijriah dan kalender Masehi. Kalender Islam berbasis peredaran bulan, sementara kalender Masehi mengikuti peredaran matahari.

Perbedaan durasi inilah yang membuat tanggal-tanggal penting dalam Islam selalu bergeser lebih awal setiap tahun jika dilihat dari kalender Masehi.

Perhitungan Kalender dan Jadwal Idul Fitri 2030

Secara hitungan astronomi, satu tahun Hijriah memiliki rata-rata 354 hari. Jumlah tersebut lebih pendek sekitar 11 hari dibandingkan tahun Masehi yang berjumlah 365 hari.

Akumulasi selisih ini menyebabkan dalam rentang waktu tertentu, satu tahun Masehi dapat memuat dua perayaan Idul Fitri.

Berdasarkan proyeksi kalender, Idul Fitri pertama pada 2030 yang bertepatan dengan 1 Syawal 1451 Hijriah diperkirakan jatuh pada Jumat, 4 Januari 2030.

Sementara itu, Idul Fitri kedua yang menandai 1 Syawal 1452 Hijriah diprediksi berlangsung pada Selasa, 24 Desember 2030.

Meski demikian, penetapan resmi di Indonesia tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama.

Siklus 33 Tahunan dalam Astronomi

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional, Andi Pangerang, menjelaskan bahwa selisih hari antara kalender Hijriah dan Masehi akan terakumulasi dari tahun ke tahun.

Menurutnya, apabila awal Ramadan jatuh pada awal tahun Masehi, maka Ramadan pada tahun berikutnya akan bergeser ke akhir tahun Masehi.

Ia menambahkan, akumulasi selisih sekitar 10,9 hari per tahun ini membentuk satu siklus penuh setiap 33 tahun.

Fenomena serupa sebelumnya tercatat pernah terjadi pada 1999 dan diperkirakan akan kembali terulang pada 2063 mendatang.