Setelah lebih dari setengah abad tanpa penerbangan berawak ke Bulan, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat kembali menyiapkan misi bersejarah. Melalui program Artemis II, empat astronaut dijadwalkan meluncur menuju Bulan pada 8 Februari 2026.

Penerbangan ini menjadi misi berawak pertama ke Bulan sejak era Apollo berakhir pada Desember 1972. Artemis II dirancang sebagai langkah awal untuk membuka kembali jalur eksplorasi manusia ke luar orbit rendah Bumi.

Berdasarkan keterangan resmi NASA, kru misi Artemis II terdiri dari Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, dan Spesialis Misi Christina Koch. Ketiganya akan didampingi Jeremy Hansen yang mewakili Badan Antariksa Kanada sebagai Spesialis Misi.

Selama kurang lebih 10 hari, para astronaut akan menjalani penerbangan mengelilingi Bulan. Misi ini bertujuan menguji kinerja roket Space Launch System dan kapsul Orion dalam kondisi luar angkasa yang sesungguhnya.

Uji terbang tersebut memegang peranan krusial dalam rangkaian program Artemis. Seluruh sistem yang dievaluasi akan menjadi dasar kesiapan NASA sebelum melanjutkan rencana pendaratan manusia di Bulan pada 2027.

Selain aspek teknis, Artemis II juga mencatat sejumlah tonggak penting. Victor Glover akan menjadi astronaut kulit berwarna pertama yang terbang menuju Bulan, sementara Christina Koch menjadi perempuan pertama yang mengikuti misi manusia ke Bulan.

Jeremy Hansen turut menorehkan sejarah sebagai astronaut non-Amerika pertama yang ikut mengelilingi Bulan. Misi ini sekaligus menegaskan kolaborasi internasional dalam eksplorasi antariksa modern.

Beberapa analis menyebut Artemis II berpeluang mencatat jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia dalam penerbangan antariksa. Potensi tersebut bergantung pada lintasan dan waktu peluncuran yang ditetapkan selama misi berlangsung.

Jika skenario tersebut terwujud, jarak maksimum penerbangan Artemis II diperkirakan melampaui rekor Apollo 13 pada 1970 yang mencapai sekitar 400.171 kilometer dari Bumi.