Benarkah Vape dan Kpod Lebih Berbahaya Daripada Rokok Konvensional? Begini Penjelasan yang Perlu Diluruskan

Benarkah  Vape dan Kpod Lebih Berbahaya Daripada Rokok Konvensional? Begini Penjelasan yang Perlu Diluruskan

rokok-pixabay-

Vaping kerap dipersepsikan sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Beragam bentuk dan rasa, mulai dari rokok elektrik, Kpod, hingga vape pen, membuatnya terlihat modern dan tidak berbahaya.

Namun di balik tampilannya, rokok elektrik menyimpan risiko kesehatan serius. Di Singapura, meski peredarannya dilarang, praktik vaping justru dilaporkan semakin marak dan pemerintah berencana memperketat sanksi pada 2025.



Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vaping tidak sesederhana yang dibayangkan. Berikut tujuh mitos umum seputar vape dan Kpod yang perlu dipatahkan.

Mitos 1 Vape hanya uap air beraroma dan tidak berbahaya

Rokok elektrik bukan sekadar uap air. Perangkat ini menghasilkan aerosol yang dapat membawa berbagai zat kimia berbahaya ke dalam paru-paru.

  • Etomidat yang sejatinya digunakan sebagai obat anestesi.
  • Ketamin yang bersifat halusinogen dan ditemukan pada Kpod ilegal.
  • Formaldehida yang dikaitkan dengan kanker dan gangguan kesuburan.
  • Tetrahydrocannabinol atau THC yang bersifat psikoaktif.
  • Logam berat seperti timbal, nikel, dan kadmium.

Paparan zat tersebut dapat memicu kondisi seperti bronkiolitis atau dikenal sebagai paru-paru popcorn, serta EVALI yang pernah mewabah di berbagai negara.

Mitos 2 Vaping lebih mudah dihentikan dibandingkan merokok


Nikotin bekerja cepat membentuk ketergantungan dengan mengubah sistem penghargaan di otak. Banyak pengguna tidak menyadari kapan kebiasaan itu berubah menjadi kecanduan.

Pod vape justru sering mengandung nikotin dengan konsentrasi tinggi, sehingga sebagian pengguna mengaku lebih sulit berhenti dibandingkan rokok biasa. Bahkan produk berlabel bebas nikotin masih kerap ditemukan mengandung nikotin tersembunyi.

Mitos 3 Rokok elektrik tidak terlalu membuat ketagihan

Anggapan ini muncul karena rokok elektrik sering dianggap tidak mengandung nikotin. Faktanya, cairan vape atau e-juice kerap mengandung nikotin dalam jumlah signifikan.

Karena peredarannya ilegal dan tanpa pengawasan ketat, kandungan rokok elektrik sulit dipastikan. Nikotin sendiri dapat meningkatkan risiko serangan jantung, mengganggu sistem pernapasan, melemahkan respons tubuh terhadap kanker, serta menghambat perkembangan otak pada usia di bawah 25 tahun.

Mitos 4 Vape bebas nikotin aman bagi kesehatan

Meski tanpa nikotin, e-juice tetap mengandung bahan kimia yang berpotensi merusak jaringan tubuh. Iritasi mulut, peradangan saluran napas, hingga kerusakan sel paru-paru menjadi risiko yang kerap diabaikan.

Aroma manis pada vape sering menutupi fakta bahwa cairan tersebut dapat mengandung zat berbahaya seperti etomidat, ketamin, dan formaldehida.

Mitos 5 Vaping efektif membantu berhenti merokok

Berhenti merokok merupakan langkah positif, namun rokok elektrik bukan metode penghentian merokok yang diakui secara medis. Klaim efektivitas vape sebagai alat berhenti merokok tidak mendapatkan pengesahan dari FDA.

Penelitian menunjukkan sebagian besar perokok yang beralih ke vape tetap menggunakan rokok elektrik hingga setahun kemudian, sehingga hanya terjadi perpindahan bentuk kecanduan.

Mitos 6 Lebih baik mulai vaping daripada merokok

Sebagian besar rokok elektrik mengandung nikotin dan sama-sama memicu ketergantungan. Sebuah penelitian menemukan pengguna vape memiliki risiko empat kali lebih tinggi untuk mulai merokok tembakau.

Produk yang dijual tanpa regulasi juga membuat konsumen tidak mengetahui kandungan sebenarnya. Otoritas kesehatan di berbagai negara, termasuk Singapura, melaporkan peningkatan kasus bronkitis, pneumonia, dan peradangan paru akibat vaping.

Mitos 7 Vape melindungi orang sekitar dari asap rokok

Meski tidak menghasilkan asap pembakaran, aerosol vape tetap mengandung nikotin dan senyawa organik volatil. Dampaknya terhadap paparan orang sekitar, terutama anak-anak, tidak bisa dianggap sepele.

Nikotin dapat mengganggu perkembangan otak remaja dan meningkatkan risiko gangguan perhatian serta kognitif. Kurangnya kesadaran akan bahaya aerosol bekas membuat risiko ini sering diabaikan.

Baca juga: Link Nonton No Tail to Tell Episode 7 8 9 Sub Indo, Spoiler, dan Jam Tayang

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya