Ia mencontohkan sejumlah karakter dan premis yang dinilai berpotensi naik, seperti introvert yang terpaksa bersosialisasi demi karier, Gen Z yang enggan berjualan dengan gaya sales konvensional, hingga dosen atau kepala keluarga yang tetap rutin berolahraga di tengah kesibukan.

Selain itu, dinamika bos galak dengan karyawan dalam format semi drama serta agen properti yang mengulas produk dengan gimmick jingle juga disebut memiliki daya tarik kuat.

Karakter dalam konten tidak lagi sekadar gimmick, melainkan fondasi identitas kreator di niche yang mereka pilih.

Untuk mengikuti tren ini, terdapat dua langkah utama yang disarankan.

Pertama, tentukan karakter dan premis dengan jelas menggunakan formula siapa berperan sebagai apa yang dinilai unik, lalu kembangkan rutinitas, konflik, dan cara penyampaiannya.

Kedua, terapkan ritme cut to cut yang cepat dengan jeda minimal, serta pertahankan unsur raw seperti gerakan kamera tidak stabil, suara latar bocor, atau ekspresi yang terlihat kikuk.

Jika tahun 2025 identik dengan estetika visual dan nuansa sinematik, maka tahun 2026 diprediksi menjadi era kejujuran visual.

Tren ini memberi ruang lebih luas bagi kreator non-perfeksionis dan memperbesar peluang FYP bagi mereka yang mengandalkan karakter serta kedekatan emosional, bukan kemewahan produksi.