IHSG Tembus Level 9.000! Ini 10 Saham Penopang yang Bikin Pasar Modal Indonesia Bersinar

IHSG Tembus Level 9.000! Ini 10 Saham Penopang yang Bikin Pasar Modal Indonesia Bersinar

saham-pixabay-

IHSG Tembus Level 9.000! Ini 10 Saham Penopang yang Bikin Pasar Modal Indonesia Bersinar

Sejarah baru tercipta di Bursa Efek Indonesia (BEI)! Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil menembus level psikologis penting 9.000 poin, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa pada penutupan pekan ini. Pencapaian gemilang ini tak lepas dari performa luar biasa sejumlah saham blue chip dan emiten berharga tinggi yang menjadi tulang punggung pergerakan indeks.



Dalam seminggu terakhir, IHSG menguat 1,55%, ditutup di level 9.075,406, naik dari posisi 8.936,754 pada pekan sebelumnya. Momentum positif ini didorong oleh sentimen domestik yang kuat, kinerja korporasi yang solid, serta arus modal asing yang terus mengalir masuk ke pasar saham Tanah Air.

Lalu, siapa saja “pahlawan” di balik pencapaian historis ini? Berikut adalah 10 saham penopang utama yang membawa IHSG melambung ke level tertinggi sepanjang masa—dengan analisis mendalam, data aktual, dan konteks pasar yang relevan untuk investor maupun pembaca awam.

1. BBRI: Raja Kontributor IHSG
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tampil sebagai kontributor terbesar terhadap penguatan IHSG. Harga saham bank pelat merah ini melonjak 2,69% ke level Rp3.820 per saham, menyumbang 15,72 poin langsung ke indeks. Kenaikan BBRI mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental perbankan nasional, terutama dalam menghadapi dinamika suku bunga dan pertumbuhan kredit yang masih stabil.


Sebagai salah satu bank dengan jaringan terluas di Indonesia, BBRI terus menunjukkan ketangguhan di tengah tekanan ekonomi global, menjadikannya pilihan utama bagi investor institusional maupun ritel.

2. BMRI: Momentum Kuat dari Bank Mandiri
Tak kalah cemerlang, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan penguatan 3,10% ke level Rp4.990 per saham. Aksi beli besar-besaran mendorong saham ini menyumbang 11,65 poin terhadap IHSG. Kenaikan BMRI didukung oleh ekspektasi positif terhadap kinerja kuartal IV 2025 dan strategi digitalisasi yang agresif.

Sebagai bank terbesar berdasarkan aset, BMRI terus memperkuat posisinya di segmen korporasi dan UMKM, sekaligus memperluas layanan keuangan inklusif—faktor yang semakin diminati pasar.

3. DSSA: Saham Termahal yang Terus Menggila
Salah satu sorotan utama pekan ini adalah performa PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), yang kini menjadi saham termahal kedua di BEI. Harganya naik 2,80% ke posisi spektakuler Rp111.000 per saham, menyumbang 10,71 poin ke IHSG.

DSSA, bagian dari konglomerasi Sampoerna Strategic Group, dikenal karena bisnis energinya yang diversifikasi—mulai dari batu bara hingga energi terbarukan. Stabilitas arus kas dan dividen konsisten membuat saham ini jadi incaran investor jangka panjang.

4. DCII: Juara Saham Termahal, Naik Lagi!
Di puncak daftar saham termahal, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) kembali mencuri perhatian. Harganya melonjak 3,71% ke level Rp218.000 per saham, menjadikannya saham paling mahal di bursa Indonesia saat ini. Kontribusinya terhadap IHSG mencapai 7,76 poin.

DCII, yang bergerak di bidang infrastruktur data center, menikmati lonjakan permintaan seiring dengan percepatan transformasi digital di Indonesia. Proyek-proyek kolaborasi dengan raksasa teknologi global turut memperkuat prospek jangka panjang emiten ini.

5. BBCA: Konsistensi Sang Raja Perbankan
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi pilar utama stabilitas IHSG. Meski hanya naik 0,94%, saham ini menyumbang 7,11 poin berkat bobot kapitalisasinya yang sangat besar. BBCA dikenal dengan kualitas aset terbaik di industri perbankan, rasio NPL rendah, dan profitabilitas yang konsisten.

Investor sering menjulukinya “saham tidur” karena minim volatilitas namun memberikan imbal hasil jangka panjang yang andal—ideal untuk portofolio defensif.

6. BBNI: Performa Impresif di Akhir Pekan
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat kenaikan paling tajam di antara bank-bank BUMN, yakni 4,13%, dan berkontribusi 5,88 poin terhadap IHSG. Lonjakan ini dipicu oleh sentimen positif atas program restrukturisasi internal dan ekspansi layanan digital seperti aplikasi mobile banking yang semakin digemari milenial.

BBNI juga aktif mendukung program pemerintah seperti KUR dan pembiayaan hijau, yang meningkatkan citra dan nilai investasinya di mata ESG (Environmental, Social, and Governance) investor.

7. BUVA: Underdog yang Meledak
Siapa sangka saham properti bisa jadi pendorong IHSG? PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mencatatkan kenaikan spektakuler 8,33% ke level Rp1.885 per saham, menyumbang 3,03 poin. Aksi beli ini diduga dipicu oleh rumor pengembangan proyek pariwisata berbasis ekowisata di Bali dan potensi kerja sama strategis dengan investor asing.

Meski kapitalisasi pasarnya kecil, volatilitas tinggi BUVA mampu memberikan dampak signifikan terhadap indeks dalam jangka pendek.

8–10. Armada Prajogo Pangestu: Trilogi Emas dari Sang Konglomerat
Ketiga saham milik konglomerat legendaris Prajogo Pangestu juga turut mengangkat IHSG:

PT Petrosea Tbk (PTRO): Naik dan menyumbang 3,11 poin. Emiten kontraktor tambang ini mendapat dorongan dari kenaikan harga komoditas logam.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Menyumbang 2,07 poin. Sebagai produsen petrokimia terbesar di Indonesia, TPIA diuntungkan oleh permintaan domestik yang kuat.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Menambah 1,85 poin. Fokus BREN pada energi terbarukan sejalan dengan tren global menuju net zero emission, menjadikannya favorit investor berkelanjutan.
Ketiganya menunjukkan betapa diversifikasi bisnis konglomerat Indonesia mampu memberikan stabilitas dan pertumbuhan bagi pasar modal secara keseluruhan.

Arus Modal Asing Masih Deras
Yang tak kalah penting, investor asing terus menunjukkan kepercayaan terhadap pasar Indonesia. Pada perdagangan terakhir, mereka mencatatkan net buy sebesar Rp947,45 miliar. Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, aliran dana asing bersih sudah mencapai Rp7,30 triliun—tanda bahwa Indonesia masih menjadi destinasi investasi yang menarik di kawasan Asia Tenggara.

Baca juga: Insentif Langsung untuk Peneliti: Kebijakan Baru Kemenristekdikti Mulai 2026, Dukungan Besar di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya