Harga Emas Antam Tembus Rekor Baru di Tahun 2026: Capai Rp2,675 Juta per Gram!
Emas Perhiasan--
Harga Emas Antam Tembus Rekor Baru di Tahun 2026: Capai Rp2,675 Juta per Gram!
Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau yang lebih dikenal dengan Logam Mulia Antam kembali mencatatkan sejarah baru pada perdagangan hari ini, Kamis (15/1/2026). Dibanderol sebesar Rp2.675.000 per gram, harga tersebut naik Rp10.000 dari posisi kemarin dan menjadi rekor tertinggi sepanjang masa sejak produk ini pertama kali dipasarkan.
Tak hanya harga jual, harga pembelian kembali (buyback) oleh Antam juga ikut melonjak. Hari ini, buyback emas Antam berada di angka Rp2.521.000 per gram, naik Rp8.000 dibandingkan Rabu (14/1/2026). Ini pun menjadi level tertinggi yang pernah dicatat dalam sejarah program buyback perusahaan pelat merah tersebut.
Dorongan Kuat dari Pasar Global
Lonjakan harga emas Antam tak lepas dari tren kenaikan harga emas dunia yang terus menguat dalam beberapa pekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Rabu (14/1/2026), harga emas internasional mencapai US$4.628,1 per troy ons, naik 0,91% dalam satu hari. Angka ini bukan hanya tertinggi tahun ini, tapi juga rekor sepanjang masa dalam sejarah pasar logam mulia global.
Faktor utama pendorong kenaikan ini berasal dari aksi beli besar-besaran di China, salah satu konsumen emas terbesar di dunia. Menurut laporan terbaru dari Bloomberg News, nilai transaksi kontrak futures untuk enam logam utama—termasuk emas dan perak—di bursa komoditas China pada Desember 2025 mencapai 37,1 triliun yuan (sekitar US$5,1 triliun). Angka ini meningkat lebih dari 260% secara year-on-year (yoy), menandakan minat investor terhadap aset fisik seperti emas semakin menggila di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Investor Beralih ke Emas sebagai Safe Haven
Di tengah volatilitas pasar saham dan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, banyak investor—baik institusional maupun ritel—mulai mengalihkan portofolionya ke aset yang dianggap aman (safe haven), salah satunya emas. Fenomena ini terlihat jelas di pasar Asia, terutama di China dan India, di mana permintaan fisik emas terus meningkat menjelang musim perayaan tradisional.
“Kami melihat ada alokasi signifikan ke komoditas. Sejumlah investor memperkirakan harga komoditas akan naik seiring kenaikan di pasar saham,” ujar Jia Zheng, Head of Trading di Shanghai Jiuying Investment Management Co., dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa emas tak lagi hanya dipandang sebagai alat lindung nilai, tetapi juga sebagai instrumen investasi strategis yang mampu memberikan imbal hasil menarik di tengah dinamika pasar yang kompleks.
Apa Artinya bagi Masyarakat Indonesia?
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya para pemegang emas Antam, kenaikan harga ini tentu membawa kabar gembira. Nilai aset mereka otomatis meningkat, dan bagi yang berencana menjual, harga buyback yang tinggi bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan mendesak atau diversifikasi investasi.
Namun, bagi calon pembeli, momen ini mungkin terasa dilematis. Di satu sisi, emas tetap menjadi pilihan investasi jangka panjang yang stabil. Di sisi lain, harga yang terus meroket bisa membuat biaya masuk (entry cost) semakin mahal.
Ahli keuangan dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Suryani, menyarankan agar masyarakat tidak terburu-buru membeli emas hanya karena harganya sedang naik. “Emas sebaiknya dibeli secara bertahap dan konsisten, bukan spekulatif. Strategi cost averaging masih relevan, terutama di tengah tren kenaikan jangka panjang seperti sekarang,” katanya.