Prabowo Targetkan 500 Sekolah Unggulan Terintegrasi dalam 4 Tahun: Langkah Nyata Wujudkan Pendidikan Berkualitas Merata di Seluruh Indonesia
Prabowo-Instagram-
Prabowo Targetkan 500 Sekolah Unggulan Terintegrasi dalam 4 Tahun: Langkah Nyata Wujudkan Pendidikan Berkualitas Merata di Seluruh Indonesia
Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat fondasi pendidikan nasional melalui program ambisius: membangun 500 sekolah unggulan terintegrasi di seluruh penjuru Tanah Air dalam kurun waktu empat tahun ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden saat meresmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Malang, Jawa Timur, pada Selasa (13/1/2026), dan langsung menjadi sorotan publik serta kalangan pendidik.
Dalam sambutannya yang penuh semangat, Presiden Prabowo menyatakan bahwa setiap kabupaten di Indonesia berhak memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas tinggi. “Rencana saya juga, di tiap kabupaten kita akan bikin sekolah unggulan terintegrasi,” ujarnya tegas di hadapan para pejabat daerah, tokoh pendidikan, dan perwakilan siswa yang hadir dalam acara peresmian tersebut.
Visi Besar: Satu Kabupaten, Satu Sekolah Unggulan
Gagasan “satu kabupaten, satu sekolah unggulan” bukan sekadar retorika politik, melainkan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Dengan membangun sekolah-sekolah unggulan yang terintegrasi—yang mencakup kurikulum holistik, fasilitas modern, tenaga pengajar profesional, serta dukungan teknologi digital—pemerintah berharap dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara karakter dan siap bersaing di kancah global.
“Kita berharap 500 ini bisa diselesaikan dalam empat tahun ke depan,” tegas Presiden Prabowo, menunjukkan tekad kuatnya untuk merealisasikan janji kampanye sekaligus menjawab harapan jutaan orang tua dan pelajar di seluruh Indonesia.
Mengapa Sekolah Terintegrasi?
Konsep “sekolah unggulan terintegrasi” yang dimaksud oleh Presiden mencakup pendekatan multidimensi dalam pendidikan. Bukan hanya fokus pada nilai ujian atau prestasi akademik, namun juga mengintegrasikan aspek kepemimpinan, kewirausahaan, literasi digital, pendidikan karakter, serta kecintaan terhadap budaya lokal dan nasional. Model ini terinspirasi dari keberhasilan institusi seperti SMA Taruna Nusantara yang telah lama dikenal sebagai pencetak pemimpin muda berintegritas.
Keberadaan sekolah-sekolah semacam ini diharapkan menjadi pusat inovasi pendidikan di daerah, sekaligus menjadi magnet bagi guru-guru berprestasi untuk mengabdi di wilayah yang selama ini minim akses terhadap fasilitas pendidikan modern.
Dukungan Infrastruktur dan Kolaborasi Multisektor
Untuk mewujudkan target ambisius tersebut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mulai menyusun peta jalan (roadmap) pembangunan infrastruktur sekolah. Pendanaan akan berasal dari APBN, namun pemerintah juga membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta, yayasan pendidikan, serta lembaga filantropi melalui skema kemitraan pemerintah dan badan usaha (KPBU).
“Ini bukan proyek pemerintah semata, tapi gerakan nasional. Kami mengajak seluruh elemen bangsa—dari dunia usaha hingga komunitas lokal—untuk ikut memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan terbaik, di mana pun mereka berada,” tambah Menteri Pendidikan dalam konferensi pers terpisah di Jakarta.
Respons Positif dari Dunia Pendidikan
Langkah Presiden Prabowo mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Prof. Dr. Siti Nurhaliza, pakar pendidikan dari Universitas Gadjah Mada, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan “terobosan strategis” yang bisa menjadi game changer dalam pemerataan pendidikan.
“Selama ini, kualitas pendidikan masih sangat terkonsentrasi di kota-kota besar. Dengan adanya sekolah unggulan di setiap kabupaten, kita memberi kesempatan yang sama kepada anak-anak di pelosok negeri untuk bermimpi besar dan meraihnya,” ujarnya.
Sementara itu, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) menyambut baik rencana ini, sekaligus mengingatkan pentingnya pelatihan guru dan sistem evaluasi berkelanjutan agar sekolah-sekolah baru tersebut benar-benar unggul, bukan hanya dari segi bangunan, tetapi juga dari mutu pembelajarannya.