Perjalanan Spiritual yang Menggetarkan Langit dan Bumi serta Menggali Hikmah Isra Miraj! Berikut Teks Khutbah Jumat 16 Januari 2026
masjid-akirEVarga/pixabay-
Dalam perspektif modern, banyak ilmuwan Muslim yang mencoba mengaitkan konsep “perjalanan instan” ini dengan teori relativitas, dimensi ruang-waktu, atau bahkan transformasi materi menjadi energi—seperti yang disebut dalam fisika kuantum. Meski demikian, inti utamanya tetaplah keyakinan: Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk melipat jarak, waktu, dan realitas demi menunjukkan keagungan-Nya kepada hamba pilihan-Nya.
Energi Spiritual Masjid: Jejak Kehadiran Ilahi di Bumi
Menarik untuk dicatat bahwa perjalanan Isra Miraj dimulai dan berakhir di masjid—dua rumah suci yang menjadi poros spiritual umat Islam. Ini bukan kebetulan. Masjid, dalam pandangan Islam, bukan hanya bangunan fisik, tetapi pusat gravitasi spiritual yang menarik rahmat ilahi.
Setiap kali umat beribadah di masjid—shalat, dzikir, membaca Al-Quran, atau bahkan duduk diam dalam ketenangan—energi positif itu tersimpan dan menyebar ke lingkungan sekitarnya. Inilah makna “Kami berkahi sekelilingnya.” Masjidil Aqsha, yang telah berdiri sejak zaman Nabi Ibrahim AS, menyimpan akumulasi berkah dari generasi ke generasi. Tak heran jika Allah memilihnya sebagai titik transit dalam perjalanan suci Nabi Muhammad SAW.
Bagi umat Muslim masa kini, pesan ini sangat relevan: jangan meremehkan kehadiran di masjid. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, masjid tetap menjadi oase ketenangan, tempat di mana jiwa bisa kembali pulih dan hati diperbarui.
Tujuan Ilahi di Balik Perjalanan Agung
Lalu, mengapa Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan malam yang luar biasa ini?
Jawabannya terletak pada konteks historis saat itu. Tahun-tahun menjelang Isra Miraj merupakan masa paling kelam dalam kehidupan Rasulullah SAW. Dikenal sebagai “Tahun Kesedihan” (‘Am al-Huzn), beliau kehilangan dua pilar utama dukungan: Siti Khadijah RA, sang istri setia yang selalu menjadi penopang emosional dan finansial, serta Abu Thalib, pamannya yang melindungi beliau dari ancaman Quraisy.
Beliau juga mengalami penolakan pedih di Thaif, di mana penduduknya melempari beliau dengan batu hingga kaki berlumuran darah. Di tengah tekanan batin yang begitu berat, Allah SWT memberikan hadiah spiritual terbesar: Isra Miraj.
Tujuannya? Seperti yang disebut dalam ayat Al-Quran: “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.” Ini adalah bentuk penguatan jiwa—terapi ilahi untuk memulihkan semangat Rasulullah SAW agar kembali teguh dalam menyampaikan risalah tauhid.
Para ulama menjelaskan bahwa dalam perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW tidak hanya melihat keindahan surga dan dahsyatnya neraka, tetapi juga bertemu langsung dengan para nabi terdahulu, mulai dari Adam hingga Isa AS. Di Sidratul Muntaha, beliau menerima perintah shalat—ritual harian yang menjadi tiang agama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya.
Nabi Muhammad SAW: Buta Huruf yang Menembus Langit Ketujuh
Satu hal yang sering luput dari perhatian adalah status Nabi Muhammad SAW sebagai “Ummi”—tidak bisa membaca dan menulis. Namun, justru dari ketidaktahuan formal inilah, Allah memberinya ilmu langsung dari sumbernya: pengalaman empiris spiritual yang tertanam di dalam qalb (hati nurani).
Beliau tidak belajar tentang surga dari buku, tapi melihatnya dengan mata kepala sendiri. Beliau tidak mendengar tentang keadilan Ilahi dari cerita, tapi menyaksikannya secara langsung. Inilah bentuk pendidikan tertinggi: ilmu yang menyatu dengan jiwa, bukan sekadar informasi yang mengendap di otak.
Kalimat penutup ayat Al-Isra’—“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”—juga mengandung isyarat mendalam. Seolah Allah berfirman: “Aku memberimu kemampuan untuk mendengar dan melihat apa yang tak terjangkau manusia biasa, karena Aku Maha Mendengar dan Maha Melihat.” Ini adalah bentuk penyaluran sifat Ilahi kepada hamba-Nya yang paling dicintai.
Paralel Spiritual: Ujian dan Penguatan dalam Kehidupan Para Nabi
Isra Miraj bukan satu-satunya contoh bagaimana Allah memberikan ujian sekaligus penguatan kepada para nabi. Sejarah kenabian penuh dengan pola serupa:
Nabi
Peristiwa Penting
Hikmah Utama
Nabi Muhammad SAW
Isra Miraj
Penguatan hati, penerimaan syariat shalat
Nabi Musa AS
Perjalanan ke Gunung Sinai
Penerimaan Taurat, ujian kesabaran
Nabi Yunus AS
Ditelan ikan paus
Tobat, kemurnian tauhid
Nabi Ibrahim AS
Dilempar ke api oleh Namrud
Keteguhan iman, tawakal total
Pelajaran universalnya jelas: setiap ujian besar selalu diikuti oleh pertolongan besar. Dan pertolongan itu datang dalam bentuk yang tak terduga—kadang dalam bentuk perjalanan malam ke langit ketujuh.
Refleksi untuk Umat Muslim Masa Kini
Di era penuh tekanan seperti sekarang—di mana kecemasan, ketidakpastian, dan kelelahan mental menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—kisah Isra Miraj hadir sebagai obat spiritual. Ia mengingatkan kita bahwa:
Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya sendirian dalam kesedihan.
Setiap perjuangan di jalan kebenaran pasti akan diberi ganjaran, bahkan jika dunia tampak tak adil.
Shalat bukan sekadar ritual, tapi warisan langsung dari perjalanan suci Nabi ke Sidratul Muntaha.
Maka, pada Jumat 16 Januari 2026, mari kita hadir di masjid bukan hanya dengan tubuh, tapi juga dengan hati yang terbuka. Dengarkan khutbah tentang Isra Miraj dengan penuh perenungan. Siapa tahu, di balik kata-kata khatib, Allah sedang menyampaikan pesan penguatan khusus untuk kita—seperti dulu Ia lakukan untuk Rasulullah SAW.
Semoga peringatan Isra Miraj tahun ini menjadi momentum pembaruan iman, penyegaran jiwa, dan komitmen baru dalam menjalankan shalat lima waktu dengan khusyuk dan ikhlas. Amin ya Rabbal ‘Alamin.