Konflik Keluarga Ratu Sofya Memanas: Curhat Pilu Jadi Tulang Punggung vs Pembelaan Adik yang Tegas Bela Orang Tua

Konflik Keluarga Ratu Sofya Memanas: Curhat Pilu Jadi Tulang Punggung vs Pembelaan Adik yang Tegas Bela Orang Tua

Ratu-Instagram-

Konflik Keluarga Ratu Sofya Memanas: Curhat Pilu Jadi Tulang Punggung vs Pembelaan Adik yang Tegas Bela Orang Tua

Dunia hiburan Tanah Air kembali diguncang drama keluarga yang sarat emosi. Kali ini, sorotan tertuju pada aktris muda berbakat Ratu Sofya, yang baru-baru ini mencuri perhatian publik lewat curhatan haru di siaran langsung TikTok. Dalam unggahan viral tersebut, Ratu tak kuasa menahan air mata saat mengungkap beban berat yang selama ini ia pikul sebagai tulang punggung keluarga—sebuah pengakuan yang memicu gelombang simpati sekaligus kontroversi.



Namun, tak berselang lama, sang adik, Nadia Bulan Sofya, tampil dengan pembelaan menohok melalui Instagram Story-nya pada Selasa malam, 13 Januari 2026. Melalui akun pribadinya @blnssfy, Bulan membagikan potret hitam-putih kedua orang tua mereka—Intan Masthura dan suaminya—dengan pesan emosional dalam Bahasa Inggris yang menyiratkan ketidaksetujuannya terhadap narasi yang disampaikan kakaknya.

Dua Sisi Cerita: Antara Kelelahan dan Kesetiaan Keluarga
Ratu Sofya, yang dikenal dekat dengan aktor Cornelio Sunny, sempat mengklarifikasi tuduhan ibunya bahwa ia “berubah” karena pengaruh pacarnya. Dalam live TikTok yang membuat netizen terenyuh, Ratu membantah tudingan tersebut dan justru mengungkap rasa lelah mendalam akibat bekerja keras tanpa memiliki kendali penuh atas hasil jerih payahnya sendiri.

“Saya bukan kabur atau berubah karena cuci otak. Saya hanya ingin mandiri secara finansial dan punya hak atas hidup saya sendiri,” ujarnya sambil menangis.


Pernyataan itu sontak memicu reaksi luas di media sosial. Banyak warganet yang bersimpati, menyebut Ratu sebagai korban dari dinamika keluarga yang tidak sehat. Namun, tak sedikit pula yang menunggu respons dari pihak keluarga lainnya—dan jawaban itu datang cepat dari sang adik.

Bulan Sofya: “Tiga dari Empat Anak Menganggap Mereka Orang Tua Terbaik”
Dalam unggahan Instagram Story-nya, Nadia Bulan Sofya menulis pesan yang penuh makna:

“It’s okay, Ma, Pa… Time will reveal the truth. One of your daughters might think you’re bad parents, but the other three know you’re the best.”

Kalimat tersebut bukan sekadar pembelaan—melainkan juga tantangan logis terhadap klaim Ratu. Dengan nada tegas namun tetap penuh kasih, Bulan mempertanyakan validitas narasi tunggal yang dibangun sang kakak.

“Siapa yang harus dipercaya? Satu orang atau tiga orang?” tulisnya, seolah mengajak publik untuk mempertimbangkan perspektif kolektif versus individu.

Lebih jauh, Bulan menegaskan komitmennya bersama dua saudara perempuan lainnya untuk tetap berdiri di sisi orang tua mereka. Ia menolak anggapan bahwa keluarga mereka toksik atau tidak bahagia—narasi yang sempat tersirat dari curhatan Ratu.

“Tidak peduli apa yang terjadi, kami bahagia, Ma, Pa. Kami akan mendampingi dan melindungi kalian dari apa pun. Kami mencintai kalian,” tutupnya dengan emoji hati putih yang menyentuh.

Publik Terbelah: Simpati untuk Ratu atau Solidaritas untuk Orang Tua?
Konflik ini memperlihatkan dua realitas yang saling bertentangan namun sama-sama manusiawi. Di satu sisi, Ratu Sofya menggambarkan perjuangan individu yang ingin merdeka secara finansial dan emosional—sebuah keinginan yang semakin umum di kalangan generasi muda urban. Di sisi lain, Bulan Sofya mewakili nilai tradisional tentang kesetiaan keluarga, solidaritas saudara, dan penghormatan terhadap orang tua.

Media sosial pun menjadi medan pertempuran opini. Tagar #SupportRatuSofya dan #KeluargaHarmonisSofya sempat bersaing di trending Twitter Indonesia. Sebagian netizen menyebut Ratu berani membongkar dinamika keluarga yang selama ini disembunyikan, sementara yang lain menilai ia terlalu egois karena mengabaikan kontribusi orang tua dalam perjalanan kariernya.

Psikolog keluarga Dr. Lina Wijaya, M.Psi., menjelaskan bahwa konflik semacam ini sering kali lahir dari perbedaan ekspektasi antargenerasi. “Anak muda zaman sekarang menginginkan otonomi, sementara orang tua dari generasi sebelumnya lebih menekankan pada tanggung jawab kolektif. Keduanya tidak salah—tapi butuh komunikasi yang sehat untuk menemukan titik temu,” ujarnya dalam wawancara singkat via telepon.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya