Profil Tampang Xabi Alonso Pelatih Real Madrid yang Memutuskan Hengkang Usai Kalah 3-2 dalam El Clasico, Lengkap: Umur, Agama dan Akun IG

Profil Tampang Xabi Alonso Pelatih Real Madrid yang Memutuskan Hengkang Usai Kalah 3-2 dalam El Clasico, Lengkap: Umur, Agama dan Akun IG

Xabi-Instagram-

Profil Tampang Xabi Alonso Pelatih Real Madrid yang Memutuskan Hengkang Usai Kalah 3-2 dalam El Clasico, Lengkap: Umur, Agama dan Akun IG
Mengapa Real Madrid Akhirnya Memutus Ikatan dengan Xabi Alonso: Ketika Legenda Tak Lagi Cukup di Dunia Sepak Bola Modern

Dunia sepak bola kembali diguncang oleh keputusan mengejutkan yang menggabungkan emosi, pragmatisme, dan tekanan hasil. Xabi Alonso, legenda hidup Real Madrid yang baru saja kembali ke Santiago Bernabéu dengan status pelatih kepala, harus menerima kenyataan pahit: proyek ambisiusnya dihentikan lebih cepat dari yang diperkirakan. Keputusan ini bukan hanya soal kekalahan, tetapi cerminan dari realitas keras di mana romantisme masa lalu tak lagi menjadi jaminan di level elite.



Alonso datang ke Madrid pada Juni 2025 dengan aura yang nyaris tak tertandingi. Sebagai mantan pemain ikonik yang membela Los Blancos selama lima musim (2009–2014), ia membawa pulang reputasi gemilang sebagai arsitek Bayer Leverkusen—klub yang sukses menjuarai Bundesliga Jerman setelah puasa gelar selama 30 tahun. Publik Madrid menyambutnya dengan harapan besar: seorang putra asli klub yang kembali untuk memulihkan identitas dan kejayaan tim.

Namun, sepak bola modern tak pernah ramah terhadap nostalgia. Di tengah sorotan media global dan ekspektasi tinggi fans, performa Real Madrid di bawah asuhan Alonso justru menunjukkan pola yang mengkhawatirkan—terutama saat menghadapi rival-rival berat.

Catatan Merah dalam Laga Kontra Tim Elite
Sejak Alonso mengambil alih kursi pelatih, Real Madrid gagal menunjukkan dominasi yang diharapkan ketika bertemu tim-tim top Eropa. Dalam rentang kurang dari tujuh bulan, Los Blancos tumbang secara beruntun dari Paris Saint-Germain, Atlético Madrid, Liverpool, Manchester City, dan yang paling menyakitkan—Barcelona.


Kekalahan demi kekalahan itu bukan sekadar angka statistik. Bagi manajemen Real Madrid, pola tersebut menjadi alarm merah yang tak bisa diabaikan. Terlebih, dalam sepak bola modern, kemampuan bersaing melawan klub-klub elite dianggap sebagai tolok ukur utama kualitas sebuah proyek pelatihan.

Puncak krisis datang pada final Piala Super Spanyol 2026 di Jeddah, Arab Saudi. Dalam laga yang sarat gengsi melawan Barcelona, Madrid kalah 2-3 meski sempat unggul lebih dulu. Ini menjadi kekalahan ketiga beruntun mereka di final melawan Blaugrana dalam berbagai kompetisi—sebuah catatan yang memperparah frustrasi internal.

Evaluasi Kilat dan Keputusan Berat
Hanya beberapa jam setelah pesawat tim mendarat di Madrid pada Senin (12/1) waktu setempat, pertemuan darurat digelar di kompleks latihan Valdebebas. Di ruangan tertutup itu, Xabi Alonso duduk berhadapan dengan para petinggi klub, termasuk presiden Florentino Pérez dan direktur olahraga.

Menurut laporan Marca dan AS, suasana pertemuan tersebut tegang namun profesional. Manajemen secara terbuka menyampaikan keraguan mendalam terhadap kelangsungan proyek Alonso. Bukan karena kurangnya dedikasi atau visi, melainkan karena ketidakmampuan tim untuk menunjukkan progres signifikan saat menghadapi lawan selevel.

Yang menjadi sorotan adalah kelelahan mental sang pelatih. Selama berbulan-bulan, Alonso berada di bawah tekanan ekstrem—dari media, fans, hingga ekspektasi internal klub. Meski dikenal tenang dan analitis, beban itu tampaknya mulai menggerus efektivitasnya di pinggir lapangan.

“Nama besar dan jasa masa lalu tidak bisa menjadi tameng abadi,” ungkap salah satu sumber internal yang dekat dengan manajemen. “Real Madrid adalah klub yang hidup dari hasil. Dan hasil melawan tim besar—itu yang paling penting.”


TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya