Apakah Drakor Made in Korea Bakal Kanjut Season 2?
Made in Korea-Instagram-
Apakah Drakor Made in Korea Bakal Kanjut Season 2?
Nasib Mencekam Geon-yeong di Tengah Badai Intrik dalam “Made in Korea” Episode 7–8
Serial thriller politik Korea Selatan, Made in Korea, kembali mengguncang penonton dengan alur cerita yang semakin gelap dan penuh ketegangan di episode 7 dan 8. Dibuka dengan kilas balik dramatis ke masa Perang Vietnam tahun 1965, penonton dibawa menyelami masa lalu kelam sang tokoh utama, Gi-tae—seorang tentara muda yang ternyata bukan sekadar prajurit biasa, melainkan pembunuh bayaran yang terlatih untuk menjalankan misi tanpa rasa belas kasihan.
Dalam adegan yang dipenuhi nuansa kelabu dan dentuman perang, Gi-tae digambarkan sebagai sosok yang telah lama kehilangan sisi kemanusiaannya. Setiap tugas diselesaikan dengan dingin, efisien, dan tanpa emosi—ciri khas seorang eksekutor yang hanya tunduk pada perintah. Namun, di balik wajah beku itu, tersembunyi ambisi besar: haus akan kekuasaan mutlak. Gi-tae tak lagi puas menjadi alat orang lain. Ia mulai membangun jaringan pengaruhnya sendiri, bertekad merebut kendali penuh atas nasibnya—dan nasib banyak orang di sekitarnya.
Konflik Saudara: Gi-hyun vs Gi-tae
Tegangan tak hanya datang dari masa lalu, tetapi juga dari dinamika hubungan keluarga yang retak. Di akhir episode 5, konflik antara Gi-hyun dan kakaknya, Gi-tae, mencapai titik didih. Gi-hyun, yang selama ini berusaha meniti jalan hidupnya sendiri, merasa terganggu oleh campur tangan Gi-tae yang dianggap terlalu dominan dan manipulatif.
Dengan nada marah namun tegas, Gi-hyun menyatakan kemandiriannya: “Aku akan mengurus diriku sendiri.” Pernyataan itu bukan sekadar protes—melainkan deklarasi perang diam-diam terhadap sang kakak. Lebih mengejutkan lagi, Gi-hyun bahkan memberikan kartu nama Geon-yeong kepada Gi-tae, seolah melemparkan isyarat bahwa ia kini berada di pihak yang berbeda.
Langkah ini memicu kecurigaan mendalam. Siapa sebenarnya Geon-yeong? Apa kaitannya dengan Gi-hyun? Dan mengapa Gi-tae tampak terganggu—bahkan mungkin khawatir—setelah menerima kartu nama tersebut?
Misteri Hilangnya Geon-yeong
Episode 7 membawa penonton ke momen yang penuh teka-teki. Dalam sebuah adegan yang awalnya terlihat biasa, Geon-yeong pergi membeli ramen—aktivitas sehari-hari yang justru membuat suasana terasa semakin tidak wajar. Sementara itu, Ye-ji sudah menunggu di tempat pertemuan yang telah disepakati. Namun, waktu berlalu, dan Geon-yeong tak kunjung muncul.
Yang lebih mengkhawatirkan: saat rekan Geon-yeong tiba di lokasi, tak ada jejak keberadaannya. Tidak ada telepon, tidak ada pesan, tidak ada penjelasan. Hanya hujan deras yang mengguyur jalanan, menciptakan atmosfer suram yang memperkuat rasa cemas penonton.
Episode pun ditutup dengan simbolisme kuat: sebuah sepeda terjatuh di tengah genangan air, dan sepasang sepatu—yang diduga milik Geon-yeong—tergeletak begitu saja di dekatnya. Adegan ini bukan hanya visual yang artistik, tetapi juga metafora atas kehidupan yang tiba-tiba terhenti, terputus oleh kekuatan gelap yang tak terlihat.
Pertanyaan Besar: Masih Hidupkah Geon-yeong?
Di episode 8, penonton dibuat menahan napas. Apakah Geon-yeong masih hidup? Atau apakah ia menjadi korban terbaru dari intrik politik dan dendam pribadi yang telah lama mengakar di balik layar pemerintahan Korea Selatan era 1970-an?
Serial ini dengan cerdik memadukan elemen sejarah, drama keluarga, dan thriller politik. Setiap karakter memiliki motif tersembunyi, setiap dialog menyimpan makna ganda, dan setiap adegan dibangun untuk memperkuat narasi utama: betapa mahalnya harga kekuasaan—dan betapa mudahnya nyawa manusia dikorbankan demi ambisi segelintir orang.