Bukan Cuma Aurelie Moeremans! Inilah Deretan Artis yang Berani Buka Suara soal Pengalaman Grooming di Dunia Hiburan: Dari Hollywood hingga Indonesia
Britney-Instagram-
Bukan Cuma Aurelie Moeremans! Inilah Deretan Artis yang Berani Buka Suara soal Pengalaman Grooming di Dunia Hiburan: Dari Hollywood hingga Indonesia
Dunia hiburan, dengan gemerlapnya sorotan kamera dan pujian publik, ternyata menyimpan sisi gelap yang tak jarang luput dari perhatian. Salah satunya adalah praktik grooming—bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak atau remaja untuk tujuan eksploitasi seksual, emosional, atau finansial. Isu ini kembali mencuat ke permukaan setelah Aurelie Moeremans, aktris muda Indonesia, berani menulis buku yang mengungkap pengalamannya menjadi korban grooming di industri hiburan Tanah Air.
Namun, kasus semacam ini bukanlah hal baru—baik di kancah global maupun lokal. Di balik layar panggung dan layar lebar, banyak selebriti dunia yang telah bersuara lantang tentang trauma masa lalu mereka, membongkar sistem industri yang selama ini membiarkan ketidakseimbangan kekuasaan tumbuh subur. Mereka tidak hanya menjadi korban, tetapi juga pejuang yang memperjuangkan kesadaran publik dan perlindungan bagi generasi muda di dunia hiburan.
Grooming dalam Industri Hiburan: Lebih dari Sekadar Eksploitasi Pribadi
Istilah grooming sering kali disalahpahami sebagai bentuk pendekatan romantis biasa. Padahal, dalam konteks psikologis dan hukum, grooming merujuk pada proses sistematis di mana pelaku membangun kepercayaan korban—biasanya anak di bawah umur—melalui pujian, hadiah, isolasi sosial, hingga manipulasi emosional, demi tujuan eksploitasi. Di industri hiburan, struktur kekuasaan yang timpang antara talenta muda dan figur otoritatif (produser, manajer, mentor, atau bahkan pasangan) kerap dimanfaatkan untuk melancarkan praktik ini.
Yang membuatnya semakin kompleks adalah bagaimana industri tersebut sering kali menormalisasi perilaku toksik dengan dalih “proses pendewasaan” atau “tuntutan profesi”. Akibatnya, banyak korban merasa bersalah, malu, atau takut bersuara—hingga bertahun-tahun kemudian.
Selebriti Dunia yang Berani Bersuara
1. Britney Spears – Korban Sistem yang Mengurung Kebebasannya
Dalam memoar best-seller-nya, The Woman in Me, Britney Spears mengungkap betapa sejak usia remaja ia hidup dalam sistem yang mengontrol setiap aspek kehidupannya—dari keuangan hingga keputusan pribadi. Ia menyebut bahwa apa yang dialaminya selama masa conservatorship (pengampunan hukum) adalah bentuk institutional grooming, di mana industri dan keluarganya secara kolektif mengeksploitasinya demi keuntungan dan citra publik.
2. Demi Lovato – Dibentuk Sejak Usia Dini oleh Mesin Industri
Penyanyi sekaligus aktivis Demi Lovato kerap berbicara terbuka tentang tekanan mental yang dialaminya sejak bergabung dengan Disney Channel di usia muda. Ia menggambarkan bagaimana tubuh, penampilan, dan bahkan identitasnya dikontrol oleh pihak manajemen, menciptakan relasi kuasa yang tidak sehat dan berdampak jangka panjang pada kesehatan mentalnya.
3. Jennette McCurdy – Trauma di Balik Layar Sitkom Anak
Melalui buku memoarnya yang provokatif, I’m Glad My Mom Died, mantan bintang Nickelodeon Jennette McCurdy mengungkap pengalaman traumatisnya: ibunya sendiri mendorongnya masuk dunia hiburan demi uang, sementara produser senior di stasiun televisi itu memperlakukannya dengan cara manipulatif dan tidak pantas. Ia menyebut bahwa dirinya menjadi sasaran grooming oleh figur berkuasa yang memanfaatkan ketidaktahuannya sebagai anak.
4. Evan Rachel Wood – Korban Kekerasan oleh Pasangan Dominan
Aktris Evan Rachel Wood menjadi salah satu suara paling vokal dalam gerakan #MeToo. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa dirinya menjadi korban grooming dan kekerasan domestik oleh musisi Marilyn Manson saat masih remaja. Hubungan tersebut, menurutnya, dibangun atas dasar ketidaksetaraan usia, pengaruh, dan kontrol psikologis yang ekstrem.
5. Brooke Shields – Diseksualisasi Sejak Usia 10 Tahun
Model dan aktris legendaris Brooke Shields mengungkap dalam wawancara dan tulisannya bahwa sejak membintangi film Pretty Baby di usia 10 tahun, tubuhnya terus-menerus diseksualisasi oleh media, fotografer, dan produser. Ia menggambarkan bagaimana lingkungan industri saat itu memperlakukan anak-anak seperti objek, bukan individu yang berhak atas perlindungan.
6. Drew Barrymore – Ketenaran Dini yang Jadi Kutukan
Drew Barrymore, yang melejit lewat E.T. di usia 6 tahun, berkali-kali berbicara tentang masa kecilnya yang kacau: terjerumus narkoba, alkohol, dan hubungan tidak sehat dengan orang dewasa. Ia mengakui bahwa ketenaran dini tanpa pendampingan memadai membuatnya rentan dieksploitasi secara emosional dan fisik.
7. Millie Bobby Brown – Target Pelecehan Online Sejak Remaja
Bintang Stranger Things Millie Bobby Brown sempat menjadi korban pelecehan daring massal, termasuk menerima pesan seksual eksplisit dari orang dewasa saat masih berusia 14 tahun. Ia lantas menjadi juru bicara kampanye anti-bullying dan perlindungan anak di ranah digital, menyoroti betapa grooming kini tak lagi terbatas pada interaksi langsung, tapi juga merambah dunia maya.
Justin Bieber dan Bayang-Bayang Kasus P. Diddy
Belakangan, nama Justin Bieber juga disebut-sebut dalam dugaan kasus grooming terkait penyelidikan terhadap produser musik Sean “P. Diddy” Combs. Beberapa sumber anonim menyebut bahwa Bieber—yang mulai tenar sejak usia 13 tahun—mungkin pernah berada dalam lingkaran sosial yang tidak aman. Namun, hingga kini, baik Bieber maupun Diddy belum memberikan pernyataan resmi terkait klaim tersebut. Meski demikian, narasi ini kembali mengingatkan publik akan kerentanan artis cilik terhadap eksploitasi sistemik.